![]() |
| Doc ; Istimewa |
Yogyakarta, RHETOR-FPMY - Dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak
(BBM) benar-benar berimbas pada
perekonomian masyarakat kelas menengah kebawah. Beban itu langsung dirasakan
oleh beberapa pedagang di Pasar Tradisional, Talok,
Geondokusuman, Yogyakarta.
“Kalau orang dagang segala
belanjaan naik. Sehingga dapat mengurangi penghasilan pedagang kecil,” ujar
Marsinah, pedagang pisang, Rabu (26/11).
Marsinah mengatakan bahwa kenaikan BBM kurang
berpihak ke rakyat kecil seperti pedagang. Menurutnya, penghasilan yang pas-pasan dengan pengeluaran yang banyak
menjadi beban yang harus ia tanggung.
“Orang
kecil seperti pedagang jelas terbebani. Kalau orang besar kenaikan BBM juga diimbangi dengan kenaikan
gaji,” tambahnya
Nasib serupa juga dialami
Paiman, penjual sayur dipasar itu. Ia mengatakan sejak BBM naik, pengeluaran dan penghasilannya jadi
tidak seimbang.
“Biasanya tiga kali pulang
menghabiskan Rp. 20.000 sekarang sampai Rp. 30.000. Otomatis pengeluaran semakin
banyak sedangkan pemasukan menjadi kurang,” ujarnya saat ditemui RHETOR-ONLINE.
Paiman sebagai penjual sayur juga menuturkan rasa simpatinya terhadap petani. Ia menjelaskan bagaimana mirisnya nasib petani yang hanya berpenghasilan rendah, sedang disisi lain harus mengeluarkan modal tanam yang besar. Dan kenaikan BBM kali ini justru tambah menghantam kebutuhan hidup petani.
Paiman sebagai penjual sayur juga menuturkan rasa simpatinya terhadap petani. Ia menjelaskan bagaimana mirisnya nasib petani yang hanya berpenghasilan rendah, sedang disisi lain harus mengeluarkan modal tanam yang besar. Dan kenaikan BBM kali ini justru tambah menghantam kebutuhan hidup petani.
“Petani menangis
sebenernya. Tidak imbang dengan pengeluarannya. Tenaga kan juga butuh biaya”
tambah Paiman beralamat Pleret, Yogyakarta.[Vian]


