![]() |
| "keributan mahasiswa dan satpam UIN saat demo menuntut pencabutan SK DO Yeni" (Doc: Rhetor-Fahri) |
“Surat peringatan bahkan telepon
pun tidak pernah dilayangkan. Intinya, saya tahu itu bukan melalui surat, tapi
saya tahu dari kajur dan kajur lalu menyatakan bahwa saya sudah out dari
sini,” kata Yeni.
Yeni dilaporkan sakit sejak
semester satu. Hal itu dibuktikan dengan Rekam Medis yang dikeluarkan oleh
rumah sakit tempat Yeni dirawat.
Beberapa hari sebelumnya sudah
pernah dilakukan audiensi antara Yeni dengan Arif, akan tetapi segala bentuk
dialog dan audiensi tidak pernah sampai pada titik temu. Kebuntuan ini yang
memaksa mahasiswa melakukan aksi solidaritas di gedung rektorat. Aksi ini terpaksa dilakukan
sebagai jalan terakhir demi tercapainya kesepakatan.
Namun, aksi yang semula
direncanakan damai justru ternodai dengan tindak represif pihak keamanan
kampus. Saat massa aksi memaksa masuk gedung rektorat pihak keamanan dibantu
pegawai justru memukuli dan mengusir massa aksi. Tindakan represif ini
mengkibatkan mahasiswa banyak mengalami luka-luka. Salah satunya Anam, salah
seorang mahasiswa Fakultas Adab, yang dikeroyok oleh beberapa pegawai dan
keamanan rektorat.
“Kita juga akan lapor karena
pihak birokrasi melakukan tindakan represif,” kata Solkhan, Koordinator Umum
Aksi.
Salah satu pegawai bahkan
menyatakan bahwa perlawanan ini terpaksa mereka lakukan karena mereka merasa
terganggu oleh aksi demonstrasi yang sering dilakukan mahasiswa. Saat
ditanyakan siapa yang menginstruksikan perlawanan ini, pegawai tersebut
menjawab bahwa perlawanan ini hanyalah inisiatif pegawai saja.
“Kita ya kerja disini mas, kan nggak
tahu apa-apa. Tiba-tiba kok mereka marah-marah tanyain pimpinan dimana,
kita kan nggak paham,” tutur seorang pegawai yang tidak mau disebutkan
namanya itu.
Bentrok mereda setelah Dekan,
Nurjanah, dan Wakil Dekan III, Alimatul Qitbiyah, Fakultas Dakwah dan
Komunikasi menemui massa aksi. Nurjannah dan Alim menjanjikan bahwa pada hari
Selasa depan (22/03) akan dilakukan pertemuan tindak lanjut antara mahasiswa
dan birokrasi.
“Masalahnya ini kan sistem mas,
apalagi sistem dari Dikti yang memang rumit. Kita gak bisa apa-apa,”
kata Nurjannah di hadapan massa aksi.
Sementara itu massa aksi
mengatakan akan bergerak kembali jika memang hari Selasa nanti masih belum
menemui kesepakatan. Solkhan menegaskan tidak akan berhenti dan akan terus
mengawal kasus ini.
“Kita tidak akan berhenti sampai
target ini tercapai. Karena kita memang sudah melakukan negosiasi sejak Januari
lalu. Bahkan surat permohonan pun sudah kami layangkan, namun tidak
ditanggapi,” kata Solkhan.
Hingga berita ini diturunkan,
KBMU masih terus melakukan pembacaan-pembacaan dan akan melakukan aksi
lanjutan. [Fahry]


