M
|
ata ini selalu
tertuju pada sosok tampan itu. Wajahnya yang tegas,berwibawa membuat setiap
mata wanita mengikuti kemanapun sosok itu melangkah.Ya,mengagumimu adalah hal
terindah yang kurasa saat ini. Walau dari kejauhan hanya mampu kulakukan. Kamu
adalah sosok terindah di mataku yang selalu mengenyahkan imajiku. Rani,ayo
beranikan dirimu mendekatinya. Ucapku dalam hati,namun kaki ini berat tuk
melangkah mendekatinya. Nampaknya aku masih malu tuk sekedar menyapanya,bahkan
namanya pun aku tak tau.
Hari
senin adalah hari yang melelahkan di sekolah,selain pagi hari harus mengikuti
upacara bendera dilanjutkan dengan olah raga yang sangat menguras
energi,ditambah dengan mata pelajaran yang membuat kepala berputar. Wajah kusut
terlihat disetiap siswa yang keluar kelas,tak terkecuali aku yang melangkah
menuju pinti gerbang yang sudah terbuka. Sedikit lega kurasa saat hari ini
telah selesai, berharap akan segera sampai di ruma siang ini. Namun geram
kurasa setelah tiga puluh menit kumenunggu tak datang juga mamaku.
“hai dik,kok belum
pulang?” seorang lelaki menyapaku.
“haa…..wajah itu..”
ucapku dalam hati.
“hai dik,kok
bengong?”
“ah,eh enggak kok
kak.iya ni belum dijemput sama mama.”
“emang rumahnya
mana?”
“gang sakura kak.”
Jawabku
“oh,ayok aku anter
aja. Kasian kamu,sebentar lagi hujan ni.”
“beneran kak?”
“iya, buruan gih.”
Dengan segera aku mengindahkan
tawaran itu. Mati gaya yang kurasa, bingung mau memulai percakapan darimana.
Sampai pada akhirnya pertanyaan ringan tertuju padaku.
“namanya siapa dik,
kelas satu kan?”
“rani kak, iya kak.”
“kakak sendiri
namanya siapa? Kelas tiga ini kan?” aku balik bertanya
“rasyid dik, iya aku
kelas tiga sastra dua.”
Hatiku sedikit senang
mendengar jawaban itu. Setidaknya aku sudah mengetahui siapa sosok yang
kukagumi itu.
Sepeda motor itu
berhenti di depan rumahku dengan gasik. Segera aku turun dari motor itu.
“terimakasih ya kak,
mampir dulu kak.” Aku mencoba menawarkan kepada kak rasyid
“oh,sama-sama dik.aku
buru-buru ni, besok-besok aja aku main kesini.”
“o.iya kak.”
Kapan-kapan main
kesini????? Itulah jawaban yang selalu terngiang di telingaku. Besar harapan hati ini bisa melihat wajah itu lagi
di depanku. Penantianku terjawab juga saat malam minggu pukul tujuh tepat. Kak
rasyid datang juga ke rumahku setelah mengirim pesan singkat lewat ponsel.
“tok tok tok …..”
terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“ya tunggu sebentar”
jawabku dengan segera.
“silahkan
masuk,sapaku kepada kak rasyid.”
“oh,ya.terima kasih
dik”
Berdua duduk
berhadapan di ruang tamu sembari diselingi makanan kecil dan teh hangat.
Obrolan ringan pun terlontar untuk mencairkan suasana. Aku semakin terpikat
dengan paras tampan kak rasyid,wajah yang penuh wibawa,tenang,sholeh,dan
santun.
“dik,kapan-kapan main
yuk?” ajak kak rasyid tiba-tiba.
“ha… main kak??ya
tanya mama dulu aja deh.”
“ih..masih anak mama
ya??”
“hahahaha..bukannya
anak mama,Cuma mama khawatir aja ama aku kak.”
“oh..kirain.”
Obrolan kita di ruang
tamu ini lumayan lama,hampir semua hal terbahas sudah.dari masalah di sekolah
sampai di luar sekolah.
“dik aku pamit dulu
ya,gak enak nih dah malem lagian semua udah dibicarain.hahaha.”
“oh.iya kak ku
panggilin kakak dulu ya.”
“tante,saya mau pamit
dulu.”
“oh,ya nak rasyid
hati-hati.”
Suara motor kak
rasyid pun terdengar meninggalkan rumahku,dan aku masuk ke rumah. Senang betul
rasanya aku dapat berkenalan dengan sosok wajahh yang selama ini aku kagumi.
“mungkinkah aku mampu
mengenali kak rasyid lebih jauh?” gumamku dalam hati
Lamunanku tertuju
hanya pada sosok kak rasyid yang baru saja meninggalkan rumahku, imajiku jauh
terbang bersama lamunanku yang semakin tak jelas kemana hingga membawakuu
terlelap menuju mimpi.
Hari ini memulai lagi
dengan aktifitas ke sekolah. Dengan langkah penuh semangat aku menuju ke
sekolah berseragm lengkap dengan sepatunya. Meskipun hari ini akan adda seabrek
ulangan harian,namun aku enjoy aja. Ya,semua itu tak lepas darii kedatangan kak
rasyid ke rumah dalam beberapa hari ini. Senyuman manis layaknya anak SMA
pun tak pernah hilang dari bibirku.
“woey,ran kenapa kamu
riang banget hari ini?” sontak lala menepukku dari samping
“ah,lala. Ngagetin
aja.”
“habisnya kamu
nyengar-nyengir mulu sih.ada apa emang?”
“hehe.. tau g la.
Tempo hari aku pulang bareng ama kak rasyid,terus habis itu dia main ke rumah.”
“what??? Gak salah
denger nia ku?”
“ya g lah.”
“eh,tapi kamu harus
hati-hati lho ran dengan kak rasyid,dia kan emang sering gitu. Sok gitu kalau
ama cewek. Apalagi ama adik kelas,sering banget dia cari perhatian. Padahal
udah punya cewek juga lho.”
“hah..??? yang bener
lo la,jangan bohong deh. Bilang aja lu iri ama gue kan.”
“aiyh ran,kenapa juga
gue ngiri ama lo? Aku juga udah punya cowok kali. Ran,kamu tau stela ama orchid
kan? Dulu mereka sahabatan,tapi sekarang dia musuhan hanya karena kak rasyid.
Udahlah,jangan terlalu tinggi kamu mengharapnya,dia hanyalah cowok yang suka
cari perhatian kesana kemai dari cewek.”
“lala,lu serius?”
“ya udah deh,gini
aja. Aku gak mau meracunimu
banyak-banyak. Yang pasti kamu jaga jarak aja ama kak rasyid. Jangan terlalu
tinggi mengharapnya dan cari tau semua sendiri biar kamu puas tau semua itu.”
“oh,iya la. Makasih
ya sarannya.”
Aku semakin penasaran
dengan perkataan lal yang menghujam jantungku. Sosok rasyid yang ku kenal baik
dan lugu,apakah iya seperti itu?
Beberapa hari aku menjauh
dari rasyid,setiap kalinya dia menghubungiku lewat telefon,aku selalu cuek.
Sampai pada akhirnya
rasyid sudah tidak pernah menghubungiku lagi. Namun aku masih mencari tau siapa
sih rasyid yang sebenarnya?
Sebenarnya sudah
sering ku melihat rasyid mengantarkan teman-teman kelas satu,yang tak dijempu
seperti yang dia lakukan kepadaku beberapa waktu lalu.
Sore ini aku dan lala
keluar untuk sekedar nongkrong bareng di café. Dari kejauhan aku melihat rasyid
datang bersama cewek yang tak lain itu adalah juga kakak kelasku,ya,atu
angkatan sama rasyid.
Kak ima,anak tiga
sastra satu.
“nah,itu ran. Itutu
ceweknya rasyid.”
“tapi la,aku beberapa
hari ini melihat kak rasyid sering nganterin anak-anak angkatan kita lho. Yang
sering dianter tu shelly ama lola,ku kira salah satu mereka ceweknya.”
“nah itu apa rani,aku
bilang ke kamu. Dia sering cari perhatian ke adik-adik kelasnya. Padahal kak
ima itu setia dan perhatian lho ama rasyid.”
“emang gak pernah
ketahuan gitu la?”
“yahhh..udah pernah
dulu ketahuan pas ama orchid. Tapi kak ima maafin dia terus.”
“waah.. hebat ya kak
ima. Dia tangguh,bisa bertahan dnegan cowok kayak gitu.”
“ya mungkin dia punya
alasan sendiri ran,buat mertahanin hubungannya.”
Obrolan di café itu
terhenti kala malam mulai datang. Sesampainya di rumah,aku hanya bisa
memandangi wajah rasyid yang menjadi foto profil fbnya.
Hati ini seraya
berkata “kak rasyid,ada apa dengan dirimu? Hingga kamu menjajaki hati wanita
dan meninggalkannya dengan bekas luka?apakah tak cukup bagimu memiliki dia yang
cantik sebagai teman hatimu?”
Rasaku terhadap kak
rasyid pun semakin memudar,aku tak mau menyakiti hatiku dengan tingkah dia. Aku
tak sanggup untuk itu. Biarlah aku mengagumimu di kilauan debu yang terhempas
di halaman sekolah dalam setiap langkahmu sebagai seorang yang aktif dan
kharismatik.
oleh : Nur An Nisa Sholikhah
oleh : Nur An Nisa Sholikhah
