Selamat datang di LPM RHETOR FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Wacana Dan Kelompok Dominan

Senin, 21 Maret 20160 komentar



“Sebuah pengantar analisis wacana, untuk menganalisis sebuah teks. Wacana yang berkembang dimasyarakat tidak terlepas dari peranan kelompok dominan dan memiliki tujuan tertentu yang ingin diperjuangkan. Artikel ini berangkat dari kepentingan diskusi mingguan LPM Rhetor”

"Cover buku Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar analisis teks media" (Doc: ubayorengkampoeng.blogspoot.com )

~Redaksi
            Wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainya, membentuk suatu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara kalimat-kalimat itu. atau bahasa yang terlengkap, tertinggi dan terbesar diatas kalimat yang mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau tertulis. (J.S Badudu 2000) dalam pendahuluan buku analisis wacana Eriyanto.
            Analisis Wacana merupakan alternatif, sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan  dalam analisis teks pemberitaan yang selama ini dikuasai oleh analisis isi. Metode ini lebih luas cakupanya ketimbang analisis isi konvensional dengan paradigma positivistik dan konstruktivisnya, biasanya hanya sampai pada pertanyaaan “apa”. Karena analisis ini lebih mengedepankan pertanyaan “bagaimana dan kenapa”. Artinya, tidak hanya bagaimana isi dari sebuah teks tersebut, melainkan kenapa pesan itu diproduksi.
            Analisis wacana adalah upaya ataupun proses dari penguraian untuk menjelaskan suatu teks (teks berita), untuk menegetahui maksud dari pemberitaan tersebut. suatu pemberitaan pasti ingin mewacanakan suatu masalah. Secara sederhana, wacana apa yang ingin dibangun dari pemberitaan, bagian mana yang lebih dominan dan berada di posisi mana media tersebut. karena pemberitaan pasti memiliki kecenderungan untuk mengarahkan apa yang di inginkan. Bukan lantas apa yang terjadi seutuhnya (real).
            Artinya, harus disadari bahwa di dalam sebuah konteks pasti ada kepentingan yang tersembunyi. Oleh karena itu, wacana yang terbangun juga tidak terlepas dari pengaruh si penulis/wartawan, redaktur beserta latar belakangnya. Rhetor harus sadar bahwa dibalik wacana terdapat makna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang ingin diperjuangkan.
            Analiss wacana kadang membuat pesimis para praktisi media. Karena analisis wacana telah mementahkan misi “mengubah dunia” hanya menjadi sekedar “merubah kata”. Artinya kata-kaa mana yang lebih dominan untuk mewacanakan suatu permasalahan sehingga berkembang di masyarakat/ khalayak. Contoh: ketika orang mendengar PKI, yang terfikirkan pasti jahat, kafir, merusak akidah, berbahaya dan lain sebagainya. Ya, karena itulah kata-kata yang mendominasi diberbagai literature, buku dan media.
            Rujukan buku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas seolah sepakat untuk menganggap bahwa PKI itu jahat. PKI adalah pembunuh dan tidak percaya Tuhan. Mereka membunuhi lawan politiknya hingga tokoh agama seperti Kyai. Kebanyakan orang tidak mau tahu bahwa PKI juga bagian dari korban pembantaian. Sementara, keterlibatan Penguasa termasuk militer sebagai kelompok yang mendominasi sejarah, buku dan media seolah bersih dari Stigma. Ya, karena Wacana yang dibangun memang memihak kepada kelompok dominan
Analisis Wacana Kritis.
            Karakteristik analisis wacana kritis dalam buku Eriyanto, Analisis Wacana, dibagi 4 bagian: Tindakan, Konteks, Historis, dan kekuasaan. Wacana  dipahami sebagai sebuah tindakan. Wacana sebagai bentuk inetraksi. Orang berbicara dan menulis dengan tujuan berinteraksi dengan orang lain (mempengaruhi, membujuk, menyangga). Konteks, analisis wacana melihat konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa dan kondisi ( siapa yang mengomunikasikan dengan siapa dan kenapa). Historis, wacana diproduksi dalam konteks tertentu dan tidak dapat di mengerti tanpa menyertakan konteks yang menyertainya (selebaran anti orba di produksi bertepatan dengan keadaan sosial politik dan ekonomi). Kekuasaan, wacana yang muncul tidak netral dan alami, tetapi bagian dari pertarungan kekuasaan (kekuasaan perusahaan terhadap buruh).  
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar
 
Powered by : LPM RHETOR FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | | | |
Copyright © 2016. RHETOR_ONLINE - All Rights Reserved
Thanks For Creating Website otak-atik by Soe.
Support by Blogger