“Sebuah pengantar analisis wacana,
untuk menganalisis sebuah teks. Wacana yang berkembang dimasyarakat tidak terlepas
dari peranan kelompok dominan dan memiliki tujuan tertentu yang ingin
diperjuangkan. Artikel ini berangkat dari kepentingan diskusi mingguan LPM Rhetor”
| "Cover buku Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar analisis teks media" (Doc: ubayorengkampoeng.blogspoot.com ) |
~Redaksi
Wacana adalah rentetan kalimat yang
berkaitan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainya,
membentuk suatu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi diantara
kalimat-kalimat itu. atau bahasa yang terlengkap, tertinggi dan terbesar diatas
kalimat yang mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikan secara lisan atau
tertulis. (J.S Badudu 2000) dalam pendahuluan buku analisis wacana Eriyanto.
Analisis Wacana merupakan
alternatif, sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam analisis teks pemberitaan yang selama
ini dikuasai oleh analisis isi. Metode ini lebih luas cakupanya ketimbang
analisis isi konvensional dengan paradigma positivistik dan konstruktivisnya, biasanya
hanya sampai pada pertanyaaan “apa”. Karena analisis ini lebih mengedepankan
pertanyaan “bagaimana dan kenapa”. Artinya, tidak hanya bagaimana isi dari
sebuah teks tersebut, melainkan kenapa pesan itu diproduksi.
Analisis wacana adalah upaya ataupun
proses dari penguraian untuk menjelaskan suatu teks (teks berita), untuk
menegetahui maksud dari pemberitaan tersebut. suatu pemberitaan pasti ingin
mewacanakan suatu masalah. Secara sederhana, wacana apa yang ingin dibangun
dari pemberitaan, bagian mana yang lebih dominan dan berada di posisi mana
media tersebut. karena pemberitaan pasti memiliki kecenderungan untuk
mengarahkan apa yang di inginkan. Bukan lantas apa yang terjadi seutuhnya (real).
Artinya, harus disadari bahwa di
dalam sebuah konteks pasti ada kepentingan yang tersembunyi. Oleh karena itu,
wacana yang terbangun juga tidak terlepas dari pengaruh si penulis/wartawan,
redaktur beserta latar belakangnya. Rhetor harus sadar bahwa dibalik wacana
terdapat makna dan citra yang diinginkan serta kepentingan yang ingin
diperjuangkan.
Analiss wacana kadang membuat
pesimis para praktisi media. Karena analisis wacana telah mementahkan misi “mengubah
dunia” hanya menjadi sekedar “merubah kata”. Artinya kata-kaa mana yang lebih
dominan untuk mewacanakan suatu permasalahan sehingga berkembang di masyarakat/
khalayak. Contoh: ketika orang mendengar PKI, yang terfikirkan pasti jahat,
kafir, merusak akidah, berbahaya dan lain sebagainya. Ya, karena itulah
kata-kata yang mendominasi diberbagai literature, buku dan media.
Rujukan buku sekolah dasar hingga sekolah
menengah atas seolah sepakat untuk menganggap bahwa PKI itu jahat. PKI adalah
pembunuh dan tidak percaya Tuhan. Mereka membunuhi lawan politiknya hingga
tokoh agama seperti Kyai. Kebanyakan orang tidak mau tahu bahwa PKI juga bagian
dari korban pembantaian. Sementara, keterlibatan Penguasa termasuk militer
sebagai kelompok yang mendominasi sejarah, buku dan media seolah bersih dari
Stigma. Ya, karena Wacana yang dibangun memang memihak kepada kelompok dominan
Analisis Wacana Kritis.
Karakteristik analisis wacana kritis
dalam buku Eriyanto, Analisis Wacana, dibagi 4 bagian: Tindakan, Konteks,
Historis, dan kekuasaan. Wacana dipahami
sebagai sebuah tindakan. Wacana
sebagai bentuk inetraksi. Orang berbicara dan menulis dengan tujuan
berinteraksi dengan orang lain (mempengaruhi, membujuk, menyangga). Konteks,
analisis wacana melihat konteks dari wacana seperti latar, situasi, peristiwa
dan kondisi ( siapa yang mengomunikasikan dengan siapa dan kenapa). Historis,
wacana diproduksi dalam konteks tertentu dan tidak dapat di mengerti tanpa
menyertakan konteks yang menyertainya (selebaran anti orba di produksi
bertepatan dengan keadaan sosial politik dan ekonomi). Kekuasaan, wacana yang
muncul tidak netral dan alami, tetapi bagian dari pertarungan kekuasaan
(kekuasaan perusahaan terhadap buruh).
