Ika Nur Khasanah
Apa
menurutmu, kenangan itu bisa mengubah sesuatu?
—Izz
Í
Ada sebuah
ruang di bawah guyuran cahaya fluorescent putih, sudut kafe bernuansa
hitam yang diam-diam justru bercahaya buat aku dan orang itu.Di setiap
pagi, setiap pintu flat-ku menutup
diiringi aroma kopi yang samar-samar. Kadang setelah kapal yang kutumpangi berlabuh di dekat pont Neuf,
aku merasa harus buru-buru mengambil antrean di kafe itu.Memesan segelas kopi
atau sepotong wafflekeju.
Ada sapaan
lembut dari aroma-aroma manis, gurih, lalu suara kaki-kaki yang menyusuri arrondissement 5. Quartier
Latin menyisakan warna khas
yang berbekas di setiap akhir pekan. Rutinitas yang berkesinambungan tanpa tahu
kapan akan berubah atau bahkan berakhir. Itulah sebentuk memoar tentang sudut
kafe dan secangkir kopi, aroma pahit-manis dari asap tipis cappuccino yang
membuncahkan rasa rindu untuk kembali mengecap lagi dan lagi.
Dunia tanpa
batas, di atas secangkir hitam itu—perihal senang dan sedih, lalu air mata dan
tawa meleleh, lebur dalam tetes-tetesnya. Bahkan jika ini bukan di Paris,
bagiku tetap akan ada kenangan bersama orang itu dan para cangkir kopi.
Sebuah garis yang jelas tercetak dalam benakku ketika kami mulai bersama-sama
menyusuri jalanan di musim dingin, menggenggam cup cappuccino kecil dan
kamera pocket. Hanya dengan begitu saja, sudah cukup untuk mengukir
sepotong senyuman.
“Apa aku
seorang pecandu?” kataku pelan dan tanpa niat yang berarti. Orang itu
menatapku cukup lama dan dengan tatapan yang dalam, seolah berkata ‘Menurutmu
bagaimana?’. Lalu aku tertawa kecil sebab pemuda dengan coat hijau tosca
itu memutuskan tetap berdiam kata.
“Aku rasa
memang aku kecanduan—” Melirik lagi sumber kepulan asap kecil di depanku, aku merasa
semakin tersihir dengan aromanya.
“Gara-gara
kau!”Dulu aku tak pernah setuju dengan pendapat Zulfa mengenai candu yang
tumbuh dari secangkir kopi, saudara kembarku itu sampai bersumpah meyakinkanku
tentang rasa nikmatnya kopi. Sampai saat itu aku tetap bergeming, tapi kemudian
dengan penuh pesona, cairan hitam itu mengalirkan sensasi menggelitik yang
unik. Mencari titik lemahku, membawa serta akalku pada kesadaran yang menjerat
dalam tara baru. Lalu menyentuh indra
pengecapku sangat pelan, sedikit aneh saat pertama kali. Pahit yang dominan tapi
juga manis di sisi lidahku yang lain. Seperti sihir yang muncul di rongga
mulutku, aku dibuat terpana dan jatuh cinta seketika.
“Ini ajaib, aku
rasa Tuhan memang adil. Kau lihat, dia itu hitam.Tapi coba kau hitung berapa
banyak yang menjadi fans-nya?” aku
berkata dengan penuh semangat, berbanding terbalik dengan pemuda di depanku
yang menanggapi dengan muka stoiknya.
“Aku rasa fans BTS saja kalah banyaknya dengan fans kopi.”Gumamku pada diri sendiri.
“Kau kemana
saja selama ini?”
“Huh? Eh, itu—”
Saat itu aku
sadar bahwa kopi sudah berhasil mengalihkan gaya minum yang selama ini aku
patenkan dengan jenis-jenis minuman mewah. Dan tahukah, orang yang
mengenalkanku dengan si hitam adalah pemuda dengan bibir tipisnya yang selalu
bisa melontarkan pemantik tawa buatku. Pemuda
itu! Izz, nama orang itu adalah Izz. Pemuda Asia dengan warna bola
mata seperti kelereng cokelat—yang manis, berkilau dan tajam dalam satu waktu.
Itu adalah istilah three in one
paling kusukai, mata Izz adalah tiga sifat berbeda yang menyatu lalu tergaris
pada irisnya dengan begitu teratur dan indah.
“En, BTS itu
siapa?” dari sekian banyak hal, aku heran kenapa dia harus menanyakan tentang
BTS.
“Heeh?Kau tak
tahu?”
“Kalau kau
tanya padaku siapa Rasulullah, aku pasti tahu.”
“Dih, aku itu
juga tahu, Izz. BTS itu boyband—”
“—Korea?” Izz
memotong ucapanku cepat, sudut bibirnya kotor oleh bekas cappuccino-nya.
“—Selatan. Iya,
mereka dari sana.”
“Oh.”Dan detik
berikutnya Izz sibuk dengan makanannya. Aku mengangguk saja
dengan jawabannya, aku yakin dia juga tak begitu serius tentang—siapa BTS?
Seperti salju yang muncul di bulan Desember dan
menguap bersih di akhir Februari, bergantian dengan daun-daun mungil yang segar
lalu angin sejuk mulai mengisi kusen-kusen jendela. Ada rasa yakin yang
menggantikan keraguanku pada Paris, pada apa yang mungkin terjadi ketika aku
sendirian dan jauh dari rumah.
Namun sekali lagi kutegaskan, rasa ragu itu hilang
sebab Izz bersedia menjadi sejumput panas yang menguapkan gumpalan kesangsian
itu. Bagi kami, sekarang itu sudah barang wajar. Sama halnya kewajaran di
setiap pagi, meja lebar dengan berpasang-pasang alat makan. Lalu seolah memang
sepatutnya sebuah piring pagi diisi potongan waffle dan selai buah atau lumuran madu. Dengan dijejeri cerek teh
manis, bersama asap yang bersinambungan dan aroma susu—berkolaborasi lalu
menari-nari—tepat di atas kertas abu-abu lebar yang penuh dengan kata-kata. Kadang
juga pagi yang kami miliki hanya didasari dengan satu cup kecil kopi manis.
“Huh! Kopi
sialan, aku mencintaimu!” dengan gemas dan penuh rasa ingin untuk meminum lagi,
aku kembali menyesap karisma pahitnya. Tak peduli dengan efek lain yang bisa
kapan saja membuat asam lambungku naik.
“Ya aku juga
mencintaimu!” kata Izz tiba-tiba, dia
mengangkat cangkir kopinya lalu mencium kecil sudut lingkarannya. Dan itu
sukses membuat kami tertawa bersama meski sejujurnya tak ada hal yang lucu dari
tingkahnya. Namun jauh dari kata nyata, kalimat itu entah kenapa perlahan-lahan
menghangatkan sesuatu yang abstrak di dalam sini.
Disisi lain kota mode itulah takdir Tuhan berputar-putar, melalui penyajian
kata-kata singkat dengan batasan budaya masing-masing. Kami berawal dari aku
dan dia—yang pendiam bertubrukan dengan si ingin tahu, penyuka kopi dan
penyair stoik? Jika kami adalah minuman, orang hanya akan berkerut wajah dan
menjauh sebab kami adalah perpaduan yang sangat aneh. Ada mikro kosmos yang
muncul di antara kami, dunia baru yang buatku sangat asing namun juga sangat kerasan.
Quartier Latindan pojok kafe
yang menyediakan bercangkir-cangkir cappuccino itulah, tempat yang
ditakdirkan Tuhan untuk pertemuan pertama kami.
Aku dan Izz.
![]() |
| Aku Ika |
Í
“Apa artinya
aku buatmu?” aku menarik-narik ujung lengan coat miliknya. Kami sedang
berjalan di sepanjang trotoar di arrondissement Paris 6, sisa musim dingin menyisakan lelehan es di pojok-pojok
tembok dan tepi jalanan. Seniman-seniman jalanan sibuk memainkan gitar, keyboard dan biola mereka, membuat
hangat ruas-ruas jalan ini.
“Kau mau aku
anggap apa?”
“Entahlah.”Aku
melepas pegangan tanganku di lengan coat-nya. Menyusuri senja dengan
pemuda pendiam itu menjadi hal yang—hampir—wajib buatku. Menemani dia hingga
larut malam karena tugas kuliahnya menumpuk, di saat lain, seringkali aku harus
menghangatkan sup untuk dikirim ke flat-nya
karena dia kelaparan! Atau juga beberapa malam sekedar dilalui dengan duduk
berdua, menghitung lampu-lampu kota sebagai pengganti bintang sebab aku
terserang insomnia. Izz adalah Zulfa kedua bagiku, kakak sekaligus teman yang
lama-kelamaan mereduksikan statusnya dalam salah satu memoriku. Menyempitkan
posisinya hingga bisa lebih jauh lagi menempati sela-sela keabstrakan rasa yang
ada.
“Bagaimana
denganku?”Izz menengok sekilas, ada senyum jahil di bibirnya yang membuatku
ingin menimpuk kepalanya saat itu juga. Kadang ada saat ketika aku melupakan
betapa dia mengkhawatirkan kondisiku ketika seharian penuh aku menghilang tanpa
kabar. Atau saat ketika dia menemuiku dengan badan basah kuyup, mengantarkan
payung sambil memarahiku sebab keteledoranku yang sangat tidak penting.
Bagi kami, itu
tak masalah walupun sejujurnya beberapa hal benar-benar terlampau dekat atau
sangat tabu bagi orang lain. Seolah-olah hal kecil seperti membetulkan letak
dasinya atau dia yang membenarkan bonnet-ku.
Kegiatan yang semakin biasa buat kami, sesekali dengan konyolnya Izz mau saja
datang ke flat-ku saat aku bilang aku
mimpi buruk. Tengah malam! Bahkan jika itu hanyalah keusilanku, dia tetap datang.
Ada yang mendorong sisi lain diri kami untuk selalu ada di sisi masing-masing.
“Kau apa?
Bicaralah dengan jelas, kau ini selalu pelit kata, ya?” aku menggerutu sambil memukul pelan bahunya. Dia hanya
menatapku dengan sorot mata yang—meski aku mencoba memahaminya—itu masih susah
dimengerti.
“Bagaimana jika
aku jadi kopi?”Izz berhenti tiba-tiba, helai rambut hitamnya mengayun ke kiri,
terbawa arah angin. Itu mengingatkanku pada saat kami berdiri di puncak Arc de
Triomphe di simpang Champs-Élysées dan dia berteriak keras-keras dari atas sana. Rambut hitamnya dulu
hampir sebahu, beberapa kali aku sengaja bermain-main dan menguncirnya ke
atas.Membuatnya seperti tokoh bangsawan Korea di era Joseon.
Pernah suatu
siang di musim gugur, kami sengaja pergi ke pulau berbatu di perbatasan Brittany dan
Normandia. Lalu jalan-jalan di biara Le Mont
Saint Michel, piknik dadakan dengan sekaleng cappuccino dingin dan sandwichdi
tangan kami masing-masing. Mengahabiskan kertas foto dan membuat panas kamera
polaroid milik Izz.
Satu bingkai
baru tentang Izz dan kota Paris. Dia dengan senyum kecil yang menawan dan tawa
keras yang hangat dan sangat menenangkan.
“Kopi? Kau mau
jadi kopi?” dahiku berkerut ke tengah, bingung. Lama-kelamaan menjadi bete karena—ya
Tuhan!—Izz itu susah sekali dipaksa untuk menjawab petanyaan. Dia selalu punya
cara untuk membuatku bete, dan selalu punya cara juga untuk mengusir jauh-jauh
ke-bete-an itu. Pernah sekali aku benar-benar merasa gondok padanya, itu adalah
musim hujan tahun kemarin. Ketika aku dan Izz pulang ke Yogyakarta
bersama—untuk pertama kalinya.
Zulfa adalah
alasan aku marah pada Izz, tidak. Lebih tepat alasannya karena Izz dengan
sengaja menonjok muka Zulfa sebab kami berpelukan di bandara. Ya Tuhan! Kami bukan
anak kecil, apa salahnya memeluk kembaranku sendiri? Kalau orang itu bukan
Zulfa dan aku tak berniat memeluknya, aku tak akan marah meskipun Izz membuat
orang itu babak belur. Tapi itu Zulfa! Saudaraku, kami kembar!
Yang aku tak
paham sampai sekarang adalah respon Zulfa yang justru tertawa terbahak-bahak
begitu sadar bahwa Izz melakukannya karena tidak tahu kami kembar. Apanya yang
lucu? Satu hal lagi, aku tidak pernah suka orang yang paling aku sayang dilukai
siapa pun, termasuk oleh Izz. Meskipun sejujurnya itu berlebihan, Zulfa bahkan
langsung care dengan Izz.
Aku sungguh
tidak bisa memahami jalan pikiran laki-laki. Dan terlebih aku sampai sekarang
masih mempertanyakan kenapa aku harus marah pada Izz saat itu, catat: aku
berhenti bicara dengannya hampir tiga hari setelah kejadian
dia-tidak-sengaja-menonjok-Zulfa. Sebagai imbasnya, kakakku yang terus membujuk
dan mengatakan itu hal yang wajar untuk laki-laki. Sayangnya dia lupa bahwa aku
perempuan dan hal itu sangat tidak wajar buatku.
Pulang pada
realitas, aku menunggu dan menebak-nebak jawaban yang mungkin akan keluar dari
mulut Izz.
“Hn.”Hanya itu
yang Izz katakan—sungguh dia ingin dipukul!
“Ugh! Memangnya
kenapa dengan kopi?” sekali lagi, aku menarik ujung lengan coat yang
dipakai Izz. Aku tak tahu apakah aku yang bodoh, kurang peka atau memang dia
yang penuh misteri dan—itu sangat menyebalkan!
Dia tak
merespon, lalu kaki panjangnya kembali dilangkahkan dan seketika suara-suara di
sepanjang Paris 6 terasa amat mengganggu buatku. Padahal biasanya aku
sangat menyukai suara pecahan piring di kedai khas
Yunani, Greg maupun resto Turki.Aku suka canda keras dan tawa para turis maupun
orang lokal Paris, tapi gara-gara jawaban Izz yang kurang ajar itu rasanya mood-ku menguap begitu saja.
“Izz, kenapa
dengan kopi?” seperti anak kecil yang merajuk, aku berhenti dari langkahku yang
pendek-pendek. Sejurus kemudian akumenatapnya redup dengan ekspresi secemberut
mungkin. Angin senja menyapa ujung syal putihku, membuatnya berkibar di
belakang leherku. Izz masih tetap diam, lalu entah sejak kapan tubuhku
tahu-tahu sudah berpindah ke dalam dekapan tangan Izz.
Dengan jelas
aku bisa mendengar detak jantungnya yang berantakan. Aku ingin berontak, tapi
lengan kekar Izz menahanku. Untuk pertama kalinya aku merasakan terpaan nafas
Izz di puncak kepalaku. Ada ketidaktenangan yang justru semakin nyaman pada
akhirnya.
“Izz, kenapa—”
“Shh! Biarkan
sebentar saja.”
Aku menurut,
hingga sebentar yang Izz maksud
berkahir sekitar lima menit setelahnya. Saat itu dekat jantungnya sudah lebih
stabil dan ketika aku menatap wajahnya lagi, ada kecanggungan seperti pertama
kami bertemu.
“Izz?”
“Hn.”
“Kau belum
menjawab pertanyaanku.”
“Soal apa?”
“Kopi. Kenapa kau mau menjadi kopi?”
Lagi-lagi ada
jeda yang dibuat oleh Izz, kali ini aku mencoba sebisa mungkin untuk tidak
merajuk. Aku rasa ada hal yang sulit baginya tentang kopi yang aku tanyakan.
“Karena kau
menyukai kopi, kau mencintainya.”
“Izz?”

