Oleh : Viki Mazaya Mushollihah
Awal bulan lalu aku mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD) yang diadakan oleh LPM
(Lembaga Pers Mahasiswa) Rhetor UIN Sunan Kalijaga di desa Umbulharjo,
Cangkringan, Sleman, Yogyakarta selama tiga hari. Kala itu jam menunjukkan
pukul 14.00 WIB, harusnya sudah saatnya kami berkumpul di kantor redaksi LPM Rhetor, gedung student centre lantai 3 UIN
Sunan Kalijaga.
Sayang, aku masih mempunyai jam kuliah. Walaupun beberapa teman kelasku yang
juga ikut lebih memilih untuk tidak masuk, aku tetap masuk. Benar, Aku
tak sendirian, ternyata ada juga yang demikian. Ia tetap
masuk kuliah meski sudahnya waktunya kumpul di SC, alasanya, karena harus melakukan presentasi di kelas.
Ia mengajakku untuk pergi ke kantor Rhetor bersama setelah
menyelesaikan presentasinya. Aku pun menunggunya.
Lama menunggu, membuatku gelisah. Aku terus
menerus memeriksa obrolan grup di whatsapp messenger ponsel pintarku. Disana
sudah banyak yang berkoar-koar agar segera berkumpul. Namun kawanku tak kunjung menyelesaikan
presentasinya. Kepanikanpun
mulai bertambah..
Aku beranjak meninggalkannya, tentunya dengan
seizin dosen mata kuliah yang sedang berlangsung. Sesampainya
di SC aku merasa lega, kawan-kawan Rhetor masih persiapan dan belum berangkat.
Kami pun berangkat pada pukul 15.30 WIB menuju lokasi tujuan yang
ternyata lumayan jauh, menaiki bukit yang cukup terjal. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi
oleh berbagai pemandangan yang amat menarik, pepohonan rindang yang sejuk
dipandang. Namun tak sepadan dengan kendaraan yang kami tumpangi. Sebuah bus
mini yang sempit ditambah peserta yang cukup banyak, tampak berjubel tak karuan.
Terasa bosan dan gerah sekali. Berbagai aktifitas pun terjadi disini. Ada yang
mendengarkan musik, ada yang memainkan ponselnya, ada pula yang terlelap,
bahkan ada yang menjaili mereka yang terlelap.
Kami tiba di lokasi pada saat
menjelang maghrib. Kami dikumpulkan di sebuah aula, sedangkan para panitia
pelaksana memasang segala peralatan yang dibutuhkan. Kemudian mereka
menjelaskan segala sesuatu yang akan dilakukan, tak lupa dengan perkenalan
terlebih dahulu. Kami juga dibagikan kamar istirahat. Masing-masing kamar diisi
oleh enam sampai tujuh orang, kecuali para peserta pria yang dikumpulkan
menjadi satu kamar. Kami pun beranjak ke kamar masing-masing untuk istirahat
sejenak, disambung dengan sholat maghrib dan makan. Makanan kami tergolong
unik, yaitu dengan nasi, tumisan tempe, dan kerupuk yang dijejerkan secara
memanjang dengan kertas bungkus nasi. Kami makan dengan cara duduk baris
memanjang seperti kereta api. Namun kami tetap menikmatinya. Mungkin karena
asyiknya kebersamaan atau memang karena lapar. Entahlah.
Setelah makan, kami disuruh berkumpul
kembali di aula untuk penjelasan materi pertama. Materinya tentang hal-hal yang
berhubungan dengan kejurnalistikan. Aku mendengarkan dengan cermat apa yang
disampaikan walaupun dengan termanggut-manggut oleh ngantuk yang tak
tertahankan, ditambah udara dingin merapi yang mulai merasuk raga.
Saatnya tidur. Sial! Aku sulit sekali untuk tidur
nyenyak. Udara dingin merapi terus menerus merasuk raga. Semakin malam, semakin
merasuk. Sehingga aku terbangun lagi dan lagi. Terjaga setiap saat.
***
Esok harinya setelah sholat subuh,
kami melakukan senam bersama diiringi oleh lagu-lagu lincah dan konyol sekali.
Gerakannya tak beraturan. Kami sendiri yang menentukannya. Secara bergantian,
kami maju satu per satu mengekspresikan gerakan di hadapan para peserta. Tak
lama kemudian, senam pun diselesaikan. Mungkin mulai bosan dengan gerakan yang
sama sekali tidak jelas bahkan tak masuk akal. Kami pun mandi dan kembali ke
aula untuk melanjutkan materi.
Materi pagi ini adalah karya fiksi
yang dijelaskan oleh penulis hebat, mahasiswi S2 Universitas Brawijaya Malang, Mbak Aven. Sebenarnya aku sudah
mengerti tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan karya fiksi. Novel,
cerpen, pantun, gurindam. Bahkan aku pernah mencoba terjun ke dalamnya,walaupun tidak lama. Aku berhenti
dalam waktu yang cukup lama karena ingin fokus menghadapi ujian-ujian akhir di
sekolah, dilanjutkan oleh perjuangan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. Biar
bagaimanapun aku harus kuliah dengan program studi yang cocok untuk menunjang
karir dan impianku di masa depan.
Ketika Mbak Aven menyampaikan kehebatan-kehebatan
menulis dan menunjukkan dirinya yang hebat, aku sangat tertarik. Apalagi ketika ditambahkan motivasi
menulis salah seorang panitia yang juga hebat dan telah melalang-buana ke
koran-koran nusantara adalah untuk mendapatkan banyak uang sambil menunjukkan
honor dari koran-koran nusantara yang
sangat menggiurkan apabila karya berhasil dimuat, semangatku untuk menulis
kembali membara. Rasanya aku ingin melanjutkan karyaku yang tertunda. Lumayan
untuk tambahan jajan, bukan?
Setelah materi, kami melakukan
brainstorming, yaitu mengevaluasi sejauh mana materi yang kami pahami. Ya,
setiap usai materi, kami melakukan brainstorming.
Setelah seharian kami belajar, sore
harinya kami bermain games. Kami bermain games tali yang terikat kuat satu sama
lain per kelompok dan kami harus melepaskannya. Kami terus berusaha
melepaskannya. Hingga kelompok lain sudah berhasil melepaskannya, hanya
kelompokku yang tak kunjung berhasil. Sialnya, mereka yang telah berhasil malah
menjaili dan mengganggu konsentrasi kelompokku. Namun kami pantang menyerah
hingga akhirnya berhasil juga. Lalu dilanjutkan dengan games lainnya, yaitu
memecahkan bungkusan air yang tergantung. Salah seorang dari masing-masing
kelompok harus cepat-cepat memecahkannya dengan kedua mata tertutup slayer.
Diputar-putar dahulu badannya, kemudian berjalan menuju bungkusan air yang
tergantung itu, dan jalannya peserta diarahkan oleh teman-teman kelompoknya.
Namun kelompok lain saling mengganggu. Uh, menyebalkan! Tak ada yang menang
ataupun kalah dalam games ini karena memang hanya untuk bersenang-senang.
Haripun beranjak malam, udara
merapi kembali merasuk raga. Kami mengadakan hiburan yang dinamakan Malam
Panggoeng Rakjat. Setiap kelompok harus menghadirkan karyanya, bebas mau
ngapain saja. Dan kami, para peserta sudah dibagi kelompoknya. Karya-karya kami
beragam. Ada yang puisi berantai, musikalisasi puisi, hingga drama. Untuk
kelompokku menampilkan
drama yang menurutku sama sekali tidak berhasil. Absurd. Aku merasa malu sekali
memainkan peran sebagai ibu-ibu sosialita dengan gaya yang centil, berlebihan,
dan hidup bermewah-mewahan. Entahlah.
Dalam pentas
itu, aku terperangah
oleh pembawa-pembawa puisi dari kawan-kawan yang lain, Ikhlas Al-farisi dan
kelompoknya misalnya. Ia membawakan puisi karya WS. Rendra yang berjudul Sajak Sebatang
Lisong dengan sangat baik dan menghayati setiap sajaknya. Bukan! Aku bukan
terperangah oleh Ikhlas. Aku hanya terperangah oleh setiap bait puisi WS.
Rendra yang dibawakannya. Sungguh sarat akan makna. Acara Malam Panggoeng
Rakjat ini berlangsung cukup menarik.
***
Dini hari, ketika aku sedang
terlelap, seseorang membangunkanku.
“Apaan sih?” teriakku.
“Ayo, ikut aku!” katanya.
“Apaan? Mau kemana? Males ah,
ngantuk!” sahutku dengan nada malas.
“Kita jalan-jalan!”
“Masih malam gini kok jalan-jalan?”
“Ayo, pokoknya ikut aku! Pakai
kerudungmu!” aku dibangunkan secara paksa olehnya. Aku kira teman di sebelahku.
Ternyata kakak panitia. Aku tersipu malu telah melakukan hal demikian. Aku pun
mengenakan kerudungku.
“Emang ada apa sih kak? Mau kemana?”
tanyaku sekali lagi.
“Ayo, ikut aku aja dulu.” Ia menutupi
kedua mataku dengan slayer. Lalu aku dibawa ke suatu tempat yang entah apa itu
aku tidak mengerti. Sungguh, aku sama sekali tidak bisa melihat sekelilingku.
Aku juga diberi beberapa pertanyaan, “mengapa kamu ikut Rhetor? Apakah kamu
sanggup bertahan di Rhetor yang hanya sebuah organisasi yang tidak bisa
sepenuhnya memberikan apa yang mungkin kamu harapkan?” dan sederet pertanyaan
lainnya. Satu per satu ditanyakan hal serupa.
Aku menjawabnya, “karena aku suka
jurnalistik dan ingin berkecimpung di dalamnya. Hanya suka, tidak mengharapkan
apa-apa. Aku ingin terus belajar, mengembangkan kejurnalistikanku, dan
berorganisasi.” Aku jawab demikian dengan jujur tanpa rekayasa. Alasanku
mengikuti LPM Rhetor memang begini. Hanya suka jurnalistik dan ingin
berkecimpung di dalamnya. Tidak lebih.
Kemudian aku didiamkan lama sekali.
Udara dingin merapi benar-benar menyiksaku pada dini hari ini. Sialnya, aku
tidak membawa jaket dan segala sesuatu sebagai penghangat badan. Aku
benar-benar merasa kedinginan. Badanku menggigil, terasa membeku. Aku sama
sekali tidak bisa bergerak selain memeluk badanku sendiri. Tak tertahankan.
Namun tiba-tiba aku diselimuti sarung dari belakang. Tercium aroma rokok yang
sangat kuat dari sarungnya. Sepertinya milik salah seorang pria, kakak panitia
LPM Rhetor. Entah siapa. Tidak mungkin kalau milik teman seangkatanku, peserta
Rhetor. Semua peserta sedang diperlakukan demikian. Ah, manisnya.
Dan akhirnya mata kami boleh dibuka.
Di depan kami sudah ada api unggun yang menyala terang. Kami beranjak mendekat
ke api unggun itu untuk menghangatkan badan kami. Setelah terasa cukup hangat,
kami kembali ke kamar masing-masing dan melanjutkan tidur.
| Vicky Mazaya |
***
Ini adalah hari terakhir kami berada
disini. Semua kegiatan berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Dan agenda hari
ini adalah hunting foto. Ini yang paling ditunggu-tunggu para peserta. Lokasi yang
dituju adalah kaliadem yang lokasinya masih jauh dan masih harus mendaki lagi.
Sebelum pergi, kami berkumpul di aula untuk dijelaskan tentang hal-hal yang
berhubungan dengan fotografi. Bagaimana cara mengatur kamera, mengatur
kefokusan sebuah objek yang akan diambil, segitiga exprosure, metode edfat, dan
lain sebagainya. Kami juga ditunjukkan beberapa gambar keren karya
fotografer-fotografer handal. Aku terperangah dibuatnya. Rasanya ingin sekali
menghasilkan karya-karya seperti itu. Aku pun mulai tertarik untuk terjun ke
dunia fotografi. Tak peduli walau sempat dilarang oleh ayahku karena khawatir
aku akan lebih boros. Fotografi itu hobi yang bisa membuat pengeluaran jadi
lebih besar, katanya. Namun aku tidak mempunyai kamera. Bagaimana aku
mengekspresikannya?
Kami pun mulai berjalan menuju lokasi
tujuan. Kami juga telah dibagikan kamera DSLR, satu kamera untuk satu kamar.
Kebetulan, untuk kamarku, aku yang dipercayai untuk memegang kamera DSLR. Aku
berjalan paling belakang bersama salah seorang kakak panitia. Aku
memanfaatkannya dengan banyak bertanya tentang teknik pengambilan gambar yang
baik. Ya, sepanjang perjalanan, aku bertanya terus menerus kepadanya sambil
sesekali mempraktekkannya, mengambil objek apa saja yang aku temui. Ternyata
susah sekali. Untuk menghasilkan satu gambar yang berkualitas saja butuh
konsentrasi penuh. Padahal aku selalu konsentrasi penuh, tapi gambar tak pernah
jadi. Pecah lagi, pecah lagi! Menyebalkan!
Sesampainya diatas, semua sibuk
dengan memotret diri baik sendiri maupun bersama-sama. Menyimpulkan setiap
kenangan yang terjadi dalam bentuk foto. Sementara aku sibuk berusaha
mendapatkan gambar yang berkualitas yang tak kunjung ku dapatkan. Emosi aku
dibuatnya. Lama-lama lelah juga. Kami juga disuruh membuat satu karya foto.
Satu kelompok satu karya dengan tema yang berbeda. Berhubung aku sama sekali
tidak handal, ya sedapatnya saja. Tak peduli mereka mau berkomentar apa. Tidak
hanya sampai disitu, kami juga mengambil gambar kami secara keseluruhan, semua
anggota LPM Rhetor yang lama dan yang baru. Senangnya!
“Ayo, semuanya kembali! Bus sudah
datang!” teriak salah seorang panita menginstruksi kami. Semua anggota pun
berjalan kembali ke tempat penginapan.
Kami tidak langsung pulang. Namun
kami mengevaluasi setiap gambar yang telah didapatkan. Kakak-kakak panitia juga
memberikan tanggapan untuk setiap gambar. Bagaimana dengan hasil gambarku?
Tidak ditampilkan apalagi dievaluasi. Mungkin karena lupa. Baguslah! Daripada
memalukan.
Selesai sudah acara pelantikan
jurnalistik tingkat dasar tahun 2015 ini. Rasanya menyenangkan sekali
mendapatkan hal-hal baru dari dunia jurnalistik. Semoga selalu jaya dan
berkarya! Begitupun dengan aku, semoga aku bisa terus berkarya. Kami pun sudah
siap untuk kembali ke tempat tinggal kami masing-masing walaupun tetap dengan
menumpangi kendaraan yang sama seperti kemarin. Kami pun pulang dengan hening
karena begitu lelah.
“Jika kamu bukan anak raja, maka
menulislah...” kalimat yang sungguh menyereset kalbu seorang pecinta karya yang
tak kunjung mampu menciptakan karya sendiri sepertiku.
***
