Selamat datang di LPM RHETOR FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

SEUNTAI KISAH DI KAKI MERAPI

Selasa, 27 Oktober 20150 komentar


Oleh : Viki Mazaya Mushollihah
 
Awal bulan lalu aku mengikuti pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD) yang diadakan oleh LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Rhetor UIN Sunan Kalijaga di desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta selama tiga hari. Kala itu jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, harusnya sudah saatnya kami berkumpul di kantor redaksi LPM Rhetor, gedung student centre lantai 3 UIN Sunan Kalijaga.
Sayang,  aku masih mempunyai jam  kuliah. Walaupun beberapa teman kelasku yang juga ikut lebih memilih untuk tidak masuk, aku tetap masuk. Benar, Aku tak sendirian, ternyata ada juga yang demikian. Ia tetap masuk kuliah meski sudahnya waktunya kumpul di SC, alasanya, karena  harus melakukan presentasi di kelas.
Ia mengajakku untuk pergi ke kantor Rhetor bersama setelah menyelesaikan presentasinya. Aku pun menunggunya.
Lama menunggu, membuatku gelisah. Aku terus menerus memeriksa obrolan grup di whatsapp messenger ponsel pintarku. Disana sudah banyak yang berkoar-koar agar segera berkumpul. Namun kawanku tak kunjung menyelesaikan presentasinya. Kepanikanpun mulai bertambah..
 Aku beranjak meninggalkannya, tentunya dengan seizin dosen mata kuliah yang sedang berlangsung. Sesampainya di SC aku merasa lega, kawan-kawan Rhetor masih persiapan dan belum berangkat.
Kami pun berangkat pada pukul 15.30 WIB menuju lokasi tujuan yang ternyata lumayan jauh, menaiki bukit yang cukup terjal. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi oleh berbagai pemandangan yang amat menarik, pepohonan rindang yang sejuk dipandang. Namun tak sepadan dengan kendaraan yang kami tumpangi. Sebuah bus mini yang sempit ditambah peserta yang cukup banyak, tampak berjubel tak karuan. Terasa bosan dan gerah sekali. Berbagai aktifitas pun terjadi disini. Ada yang mendengarkan musik, ada yang memainkan ponselnya, ada pula yang terlelap, bahkan ada yang menjaili mereka yang terlelap.
Kami tiba di lokasi pada saat menjelang maghrib. Kami dikumpulkan di sebuah aula, sedangkan para panitia pelaksana memasang segala peralatan yang dibutuhkan. Kemudian mereka menjelaskan segala sesuatu yang akan dilakukan, tak lupa dengan perkenalan terlebih dahulu. Kami juga dibagikan kamar istirahat. Masing-masing kamar diisi oleh enam sampai tujuh orang, kecuali para peserta pria yang dikumpulkan menjadi satu kamar. Kami pun beranjak ke kamar masing-masing untuk istirahat sejenak, disambung dengan sholat maghrib dan makan. Makanan kami tergolong unik, yaitu dengan nasi, tumisan tempe, dan kerupuk yang dijejerkan secara memanjang dengan kertas bungkus nasi. Kami makan dengan cara duduk baris memanjang seperti kereta api. Namun kami tetap menikmatinya. Mungkin karena asyiknya kebersamaan atau memang karena lapar. Entahlah.
Setelah makan, kami disuruh berkumpul kembali di aula untuk penjelasan materi pertama. Materinya tentang hal-hal yang berhubungan dengan kejurnalistikan. Aku mendengarkan dengan cermat apa yang disampaikan walaupun dengan termanggut-manggut oleh ngantuk yang tak tertahankan, ditambah udara dingin merapi yang mulai merasuk raga.
Saatnya tidur. Sial! Aku sulit sekali untuk tidur nyenyak. Udara dingin merapi terus menerus merasuk raga. Semakin malam, semakin merasuk. Sehingga aku terbangun lagi dan lagi. Terjaga setiap saat.
***
Esok harinya setelah sholat subuh, kami melakukan senam bersama diiringi oleh lagu-lagu lincah dan konyol sekali. Gerakannya tak beraturan. Kami sendiri yang menentukannya. Secara bergantian, kami maju satu per satu mengekspresikan gerakan di hadapan para peserta. Tak lama kemudian, senam pun diselesaikan. Mungkin mulai bosan dengan gerakan yang sama sekali tidak jelas bahkan tak masuk akal. Kami pun mandi dan kembali ke aula untuk melanjutkan materi.
Materi pagi ini adalah karya fiksi yang dijelaskan oleh penulis hebat, mahasiswi S2 Universitas Brawijaya Malang, Mbak Aven. Sebenarnya aku sudah mengerti tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan karya fiksi. Novel, cerpen, pantun, gurindam. Bahkan aku pernah mencoba terjun ke dalamnya,walaupun tidak lama. Aku berhenti dalam waktu yang cukup lama karena ingin fokus menghadapi ujian-ujian akhir di sekolah, dilanjutkan oleh perjuangan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. Biar bagaimanapun aku harus kuliah dengan program studi yang cocok untuk menunjang karir dan impianku di masa depan.
Ketika Mbak Aven menyampaikan kehebatan-kehebatan menulis dan menunjukkan dirinya yang hebat, aku sangat tertarik.  Apalagi ketika ditambahkan motivasi menulis salah seorang panitia yang juga hebat dan telah melalang-buana ke koran-koran nusantara adalah untuk mendapatkan banyak uang sambil menunjukkan honor dari koran-koran  nusantara yang sangat menggiurkan apabila karya berhasil dimuat, semangatku untuk menulis kembali membara. Rasanya aku ingin melanjutkan karyaku yang tertunda. Lumayan untuk tambahan jajan, bukan?
Setelah materi, kami melakukan brainstorming, yaitu mengevaluasi sejauh mana materi yang kami pahami. Ya, setiap usai materi, kami melakukan brainstorming.
Setelah seharian kami belajar, sore harinya kami bermain games. Kami bermain games tali yang terikat kuat satu sama lain per kelompok dan kami harus melepaskannya. Kami terus berusaha melepaskannya. Hingga kelompok lain sudah berhasil melepaskannya, hanya kelompokku yang tak kunjung berhasil. Sialnya, mereka yang telah berhasil malah menjaili dan mengganggu konsentrasi kelompokku. Namun kami pantang menyerah hingga akhirnya berhasil juga. Lalu dilanjutkan dengan games lainnya, yaitu memecahkan bungkusan air yang tergantung. Salah seorang dari masing-masing kelompok harus cepat-cepat memecahkannya dengan kedua mata tertutup slayer. Diputar-putar dahulu badannya, kemudian berjalan menuju bungkusan air yang tergantung itu, dan jalannya peserta diarahkan oleh teman-teman kelompoknya. Namun kelompok lain saling mengganggu. Uh, menyebalkan! Tak ada yang menang ataupun kalah dalam games ini karena memang hanya untuk bersenang-senang.
Haripun beranjak malam, udara merapi kembali merasuk raga. Kami mengadakan hiburan yang dinamakan Malam Panggoeng Rakjat. Setiap kelompok harus menghadirkan karyanya, bebas mau ngapain saja. Dan kami, para peserta sudah dibagi kelompoknya. Karya-karya kami beragam. Ada yang puisi berantai, musikalisasi puisi, hingga drama. Untuk kelompokku menampilkan drama yang menurutku sama sekali tidak berhasil. Absurd. Aku merasa malu sekali memainkan peran sebagai ibu-ibu sosialita dengan gaya yang centil, berlebihan, dan hidup bermewah-mewahan. Entahlah.
Dalam pentas itu, aku terperangah oleh pembawa-pembawa puisi dari kawan-kawan yang lain, Ikhlas Al-farisi dan kelompoknya misalnya. Ia membawakan puisi karya WS. Rendra yang berjudul Sajak Sebatang Lisong dengan sangat baik dan menghayati setiap sajaknya. Bukan! Aku bukan terperangah oleh Ikhlas. Aku hanya terperangah oleh setiap bait puisi WS. Rendra yang dibawakannya. Sungguh sarat akan makna. Acara Malam Panggoeng Rakjat ini berlangsung cukup menarik.
***
Dini hari, ketika aku sedang terlelap, seseorang membangunkanku.
“Apaan sih?” teriakku.
“Ayo, ikut aku!” katanya.
“Apaan? Mau kemana? Males ah, ngantuk!” sahutku dengan nada malas.
“Kita jalan-jalan!”
“Masih malam gini kok jalan-jalan?”
“Ayo, pokoknya ikut aku! Pakai kerudungmu!” aku dibangunkan secara paksa olehnya. Aku kira teman di sebelahku. Ternyata kakak panitia. Aku tersipu malu telah melakukan hal demikian. Aku pun mengenakan kerudungku.
“Emang ada apa sih kak? Mau kemana?” tanyaku sekali lagi.
“Ayo, ikut aku aja dulu.” Ia menutupi kedua mataku dengan slayer. Lalu aku dibawa ke suatu tempat yang entah apa itu aku tidak mengerti. Sungguh, aku sama sekali tidak bisa melihat sekelilingku. Aku juga diberi beberapa pertanyaan, “mengapa kamu ikut Rhetor? Apakah kamu sanggup bertahan di Rhetor yang hanya sebuah organisasi yang tidak bisa sepenuhnya memberikan apa yang mungkin kamu harapkan?” dan sederet pertanyaan lainnya. Satu per satu ditanyakan hal serupa.
Aku menjawabnya, “karena aku suka jurnalistik dan ingin berkecimpung di dalamnya. Hanya suka, tidak mengharapkan apa-apa. Aku ingin terus belajar, mengembangkan kejurnalistikanku, dan berorganisasi.” Aku jawab demikian dengan jujur tanpa rekayasa. Alasanku mengikuti LPM Rhetor memang begini. Hanya suka jurnalistik dan ingin berkecimpung di dalamnya. Tidak lebih.
Kemudian aku didiamkan lama sekali. Udara dingin merapi benar-benar menyiksaku pada dini hari ini. Sialnya, aku tidak membawa jaket dan segala sesuatu sebagai penghangat badan. Aku benar-benar merasa kedinginan. Badanku menggigil, terasa membeku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak selain memeluk badanku sendiri. Tak tertahankan. Namun tiba-tiba aku diselimuti sarung dari belakang. Tercium aroma rokok yang sangat kuat dari sarungnya. Sepertinya milik salah seorang pria, kakak panitia LPM Rhetor. Entah siapa. Tidak mungkin kalau milik teman seangkatanku, peserta Rhetor. Semua peserta sedang diperlakukan demikian. Ah, manisnya.
Dan akhirnya mata kami boleh dibuka. Di depan kami sudah ada api unggun yang menyala terang. Kami beranjak mendekat ke api unggun itu untuk menghangatkan badan kami. Setelah terasa cukup hangat, kami kembali ke kamar masing-masing dan melanjutkan tidur.

Vicky Mazaya
***
Ini adalah hari terakhir kami berada disini. Semua kegiatan berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Dan agenda hari ini adalah hunting foto. Ini yang paling ditunggu-tunggu para peserta. Lokasi yang dituju adalah kaliadem yang lokasinya masih jauh dan masih harus mendaki lagi. Sebelum pergi, kami berkumpul di aula untuk dijelaskan tentang hal-hal yang berhubungan dengan fotografi. Bagaimana cara mengatur kamera, mengatur kefokusan sebuah objek yang akan diambil, segitiga exprosure, metode edfat, dan lain sebagainya. Kami juga ditunjukkan beberapa gambar keren karya fotografer-fotografer handal. Aku terperangah dibuatnya. Rasanya ingin sekali menghasilkan karya-karya seperti itu. Aku pun mulai tertarik untuk terjun ke dunia fotografi. Tak peduli walau sempat dilarang oleh ayahku karena khawatir aku akan lebih boros. Fotografi itu hobi yang bisa membuat pengeluaran jadi lebih besar, katanya. Namun aku tidak mempunyai kamera. Bagaimana aku mengekspresikannya?
Kami pun mulai berjalan menuju lokasi tujuan. Kami juga telah dibagikan kamera DSLR, satu kamera untuk satu kamar. Kebetulan, untuk kamarku, aku yang dipercayai untuk memegang kamera DSLR. Aku berjalan paling belakang bersama salah seorang kakak panitia. Aku memanfaatkannya dengan banyak bertanya tentang teknik pengambilan gambar yang baik. Ya, sepanjang perjalanan, aku bertanya terus menerus kepadanya sambil sesekali mempraktekkannya, mengambil objek apa saja yang aku temui. Ternyata susah sekali. Untuk menghasilkan satu gambar yang berkualitas saja butuh konsentrasi penuh. Padahal aku selalu konsentrasi penuh, tapi gambar tak pernah jadi. Pecah lagi, pecah lagi! Menyebalkan!
Sesampainya diatas, semua sibuk dengan memotret diri baik sendiri maupun bersama-sama. Menyimpulkan setiap kenangan yang terjadi dalam bentuk foto. Sementara aku sibuk berusaha mendapatkan gambar yang berkualitas yang tak kunjung ku dapatkan. Emosi aku dibuatnya. Lama-lama lelah juga. Kami juga disuruh membuat satu karya foto. Satu kelompok satu karya dengan tema yang berbeda. Berhubung aku sama sekali tidak handal, ya sedapatnya saja. Tak peduli mereka mau berkomentar apa. Tidak hanya sampai disitu, kami juga mengambil gambar kami secara keseluruhan, semua anggota LPM Rhetor yang lama dan yang baru. Senangnya!
“Ayo, semuanya kembali! Bus sudah datang!” teriak salah seorang panita menginstruksi kami. Semua anggota pun berjalan kembali ke tempat penginapan.
Kami tidak langsung pulang. Namun kami mengevaluasi setiap gambar yang telah didapatkan. Kakak-kakak panitia juga memberikan tanggapan untuk setiap gambar. Bagaimana dengan hasil gambarku? Tidak ditampilkan apalagi dievaluasi. Mungkin karena lupa. Baguslah! Daripada memalukan.
Selesai sudah acara pelantikan jurnalistik tingkat dasar tahun 2015 ini. Rasanya menyenangkan sekali mendapatkan hal-hal baru dari dunia jurnalistik. Semoga selalu jaya dan berkarya! Begitupun dengan aku, semoga aku bisa terus berkarya. Kami pun sudah siap untuk kembali ke tempat tinggal kami masing-masing walaupun tetap dengan menumpangi kendaraan yang sama seperti kemarin. Kami pun pulang dengan hening karena begitu lelah.
“Jika kamu bukan anak raja, maka menulislah...” kalimat yang sungguh menyereset kalbu seorang pecinta karya yang tak kunjung mampu menciptakan karya sendiri sepertiku.
***
Share this article :
Comments
0 Comments

Posting Komentar
 
Powered by : LPM RHETOR FDK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | | | |
Copyright © 2016. RHETOR_ONLINE - All Rights Reserved
Thanks For Creating Website otak-atik by Soe.
Support by Blogger