Berbicara mengenai
perempuan, tidak akan habis-habisnya. Perempuan, bukan hanya sekedar tentang
perasaan, pengabdian, ketidak setaraan, apalagi hanya tentang analogi manusia
dan bunga. Terlalu picik pula jika hanya perempuan disimbolkan sebagai pemuas
nafsu belaka. Terlalu lemah jika hanya diperkenankan berdiam diri. Terlalu
patuh jika hanya dimanfatkan sebagai pengabdi. Sudah saatnya perempuan
melegitimasi keberadaannya. Bergerak, bersuara, berlari, berjuang dan beteriak pada dunia bahwa perempuan
memiliki tempat atas kuasa muka bumi ini. Banyak para pejuang perempuan hebat
yang telah menghebatkan dunia ini. Tapi mereka memiliki porsi dan tataran
masing-masing. Dunia ini keras dan akan semakin keras jika perempuan hanya
tunduk dan patuh pada rezim kapitalisme yang semakin membelenggu eksistensi perempuan. Hidup bukanlah khayalan
semata, tapi realitas yang harus dibangun dan digerakkan.
Perlu diketahui, sebelum adanya
sistem patriarki, sistem matriarki juga pernah menduduki atas kuasa dunia ini.
Jika dikatakan bahwasanya laki-laki itu lebih rasional dari pada perempuan, itu
salah besar. Perempuan juga bisa lebih rasional dari pada laki-laki, hanya saja
sistem pariarki yang sudah mengakar dan membudaya hingga membentuk perempuan
menjadi lebih condong pada emosionalnya. Itu adalah bentukan dari stereotip
masyarakat yang hegemoni bukan sesuatu yang disebut dengan nature (alami).
Lebih ironisnya lagi, labelisasi pada perempuan bahwa perempuan adalah objek
sex maupun kekerasan.
Berbicara mengenai feminisme, berarti
berbicara kesadaran. Kesadaran yang sudah ada tetapi kalah dengan arus kehidupan yang sudah menggerakkan dan
menyuarakan perempuan. Bukan semata-mata kesadaran dibidang ilmu, lebih kepada semangat
dan cara pandang bagi penulis. Feminisme bukanlah sesuatu yang dihasilkan oleh
satu cara pandang sedemikian sehingga menimbulkan produk pengetahuan dan cara
mengetahui yang tunggal saja. Disini, penulis lebih mengartikan sesuatu yang
lebih bersifat cair dan jamak. Feminisme juga tentang kesetaraan sosial entah
perempuan maupun laki-laki. Karena tidak hanya perempuan yang berada dikelas
bawah dan tertindas oleh sistem kapitalis laki-laki pundemikian. Karena yang dimaksud dengan feminisme yaitu
ideologi yang menyadari ketimpangan konstruksi dan kemudian mengarahkan dirinya
kepada perubahan atas ketimpangan. Pemahaman yang mengarahkan feminisme
mendorong perempuan untuk single parent merupakan stereotip kecurigaan dan
paranoia semata.
Sedang femininitas dan gender
adalah konstruksi sosial budaya yang diatribusikan pada perempuan. Yang bukan
merupakan biologis manusia maupun female yang mengarah pada perempuan atau betina yang sudah kodrati atau alamiah. Jadi,
penulis lebih menekankan bahwa antara biologis manusia dan gender itu harus
dibedakan agar tidak rancu dan tidak saling bertabrakan maupun saling campur
aduk yang akhirnya gagal paham dan lagi-lagi mengatas namakan agama untuk
menolak gerakan feminisme.
Perlu diketahui pula, asumsi-asumsi yang
mengatakan kalau feminisme adalah pengaruh dari barat itu harus bisa dipertanggung
jawabkan. Karena feminsme ini masuk ke Indonesia sebelumnya juga melewati
ruang-ruang tertentu pula. Juga sudah banyak dikonstruk oleh pemikiran-pemikiran dari berbagai pihak yang
mendalami, menekuni, bahkan melakukan observasi pada faham itu sendiri.
Jika dikaitkan dengan agama, Islam adalah
sistem kehidupan yang mengantarkan manusia untuk memahami realitas kehidupan.
Islam juga merupakan tatanan global yang diturunkan Allah sebagai Rahmatan
lil’alamin. Sehingga sebuah konsekuensi logis bila penciptaan Allah atas
makhluknya (laki-laki dan perempuan) memiliki missi sebagai khalifatullah fil
ard, yang memiliki kewajiban untuk menyelamatkan peradaban manusia. Dengan
demikian, perempuan dalam Islam memiliki peran yang komprehensif dan kesetaraan
harkat yang sebagai hamba Allah serta mengemban amanah yang sama dengan
laki-laki. Perempuan memiliki peran yang sangat strategis dalam mendidik anak
bangsa, memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban.
Bisa dikatakan, feminisme
dengan konsep gendernya tidak ada dalam Islam. Namun sebagai perempuan yang mumpuni
dalam sektor peradaban, kita di tuntut untuk mampu menjelaskan peran perempuan
itu sendiri. Baik dengan paradigma Agama manapun, maupun dalam ranah
pergerakan. Semua itu berangkat dari kesadaran untuk berperan aktif dalam
dinamika kehidupan masyarakat yang terbangun dari sebuah pemahaman. Karena
sejarah juga pernah menjadi saksi atas perjuangan para perempuan Indonesia
dahulu bahwasanya perempuan dapat menyampaikan anspirasi maupun kontrol dan
juga mampu melakukan perubahan. Dan tidak mesti dalam ranah yang sama. Sebab
semua itu juga butuh proses, apalagi dengan pribadi manusia yang memiilki
tataran dan porsi yang berbeda-beda. Di era saat ini, perempuan juga harus
mampu menyalurkan anspirasi maupun
gagasannya ke arah perubahan walaupun dengan cara yang berbada-beda.
Penulis menegaskan, jangan dengan
mudah men-judge suatu faham sebelum mempunyai pemahaman yang pasti akan ideologi
yang dibangun suatu komunitas atau kelompok. Dan pada intinya, sebagai spirit
untuk perempuan agar bergerak dalam ranah apapun. Jangan hanya mau berada dalam
wilayah domestik saja. Dunia ini luas dan sangat membutuhkan kehadiranmu untuk
membangun sektor negara yang maju serta berdaulat atas masyarakat laki-laki
maupun perempuan yang saling berbaur dan bahu membahu. Untuk para perempuan
hebat yang akan menghebatkan dunia yang kadang menyepelekanmu, semangat dan
terus berjuang untuk Negeri Indonesia
tercinta ini.

