Anisa Rizqianti
Duduk
– duduk di balkon, ...ya’ aku
mempunyai hobbi baru sekarang, sembari
istirahat biasanya aku
jajarkan kaki sama persis diatas lantai balkon, pundakku sandarkan pada
dinding balkon yang berwarna merah jambu. Suara gemuruh pesawat terbang dan suara bisingnya
kereta api terdengar
dengan jelas jika aku berada di balkon, padahal jarak antara rumahku dengan bandara dan
stasiun terbilang cukup jauh. Balkonku seperti menara
pengintai, apapun bisa terlihat jika
berada di atasnya, jarak pandang yang jauh pun bisa terlihat jelas. Model
yang klasik dan menjulang tinggi serta letaknya yang strategis cukup membuat balkonku ini dikenali di
komplek perumahan tempat tinggalku.
Angin
bertiup dikala senja mulai
menyapa, ketika itu aku memang
sedang berada di balkon “dalam lamunan aku teringat lusa lalu”. Tak sengaja aku memperhatikan kedatangan salah seorang yang
melintas di depan balkon,
gerak-geriknya menarik perhatianku. Tanpa sadar
kedua bola mata ini terus tertuju untuk memperhatikan dengan seksama. Terlihat
seorang anak
mungkin kira-kira umurnya sekitar 8 tahunan sedang menggandeng anak yang lebih kecil darinya, kira-kira umur anak yang
digandeng oleh dia sekitar 3 tahunan. Mereka
berjalan bersama, mereka tidak
hanya berdua namun ada seorang perempuan dewasa tampak sedang menjinjing karung
lusuh. Sepertinya mereka adalah satu keluarga. Ternyata memang benar dugaanku,
perempuan itu adalah ibu mereka dan tentu saja mereka berdua adalah kakak-beradik,
itu ku tahu karena sewaktu anak bungsunya menangis lalu cepat-cepatlah ia digendong
lalu perempuan itu memeluknya berusaha menenangkan si bungsu, kemudian karung
yang tadi di jinjing oleh si ibu sekarang sudah berpindah posisi dijinjing oleh
si anak sulung.
Keadaan mereka cukup memprihatinkan, pakaian yang mereka bertiga kenakan sangat kotor
bahkan ada jahitan yang sudah tak menyatu lagi dengan kain di bagian bahu dan
lengannya. Selain itu, ibu dan si sulung terlihat telanjang kaki, tak ada alas
kaki menempel sebagai pelindung kaki padahal sedari tadi mereka berjalan
menyusuri komplek perumahanku, hanya si kecil yang memakai alas kaki itupun
hanya sandal butut yang bukan pasangannya, sandal yang satu berwarna kuning
kusam dan yang satunya tak jauh berbeda berwarna coklat kusam. Tak terlihat ada
barang yang menyolok apalagi berharga yang menghiasi mereka.
Ibu mereka pergi begitu saja
setelah melewati balkonku,
entah kemana ibu itu pergi meninggalkan kedua buah hatinya
yang masih kecil, ia hanya menunjuk ke arah bawah balkonku sembari
menurunkan anak bungsunya yang sudah tenang. Ibu itu lantas terus menjauh dari jangkauan
mereka sambil terus menjinjing karung dipundaknya, ia terlihat fokus dengan
jalan yang dilaluinya. Benar saja jika sewaktu-waktu ada sampah dari botol plastik
atau kardus bekas atau karton dan koran yang tak terpakai ditemuinya dibahu
jalan langsung saja dengan cekatan ia memasukannya kedalam karung, dan hal itu
terus saja diulanginya. Tak ketinggalan pula jika melewati tempat pembuangan
sampah ibu itu selalu menghampiri untuk melihat isi dari bak sampah, kemudian
mengais sisa-sisa apa saja yang menurutnya berharga lalu dimasukkan kedalam
karung. Sepanjang perjalanan terus dilakukannya sampai ibu itu benar-benar jauh
dan tak terlihat.
Anak pemulung itu
memutuskan untuk duduk di bawah balkon seperti arahan ibunya tadi. Raut muka anak itu terlihat sendu
melihat sang adik sudah tertidur
lelap di gendongannya, bergegas ia duduk dibawah balkon guna
mencari tempat teduh untuk mereka istirahat, kemudian
di pangku adik semata wayangnya.
Ia memandangi adiknya penuh kasih
sayang dan terus
seperti itu, ia berusaha menjaga agar tetap terjaga dari tidurnya. Tiba- tiba pandangan beralih kearah perut kecil miliknya,
secara reflek tangan yang tadinya untuk mengelus-elus si bungsu kini mengelus-elus serta
memegangi perutnya sendiri.
Ia terlihat pucat menahan lapar, mungkin sudah
1 atau 2 hari belum
makan.
Dia berusaha mengambil sesuatu dari
balik pakaiannya, ia menyimpan buku
yang sudah usang dan tak layak pakai dari
sana. Ia mencoba menulis sesuatu, untuk mengalihkan rasa lapar. Entah
apa yang ia tulis di buku
itu, sepertinya aku
ragu kalau dia bisa menulis karena terlihat sekali ia belum bisa memegang
pensilnya dengan benar.
Adiknya
merengek terbangun dari pangkuannya, kemungkinan si adik juga merasa lapar seperti dirinya
hingga ia terbangun. Sebagai seorang kakak sudah sewajaranya tanggap, ia menenangkan dan
berusaha mencari cara agar adiknya tak merengek. Ia kemudian beranjak dari tempat duduk dan menghampiri bak sampah di depan balkonku, di kaislah tempat itu dan
seketika senyuman terkembang dibibir mungilnya, ia menemukan buah jeruk yang membusuk dan sudah dikerumuni banyak lalat, selain itu ia
menemukan
sisa susu kotak bekas yang dibuang begitu saja oleh sang pemilik tanpa menghabiskannya terlebih dulu,
serta menemukan sepotong roti yang sudah digigit oleh orang yang membuangnya.
Kemudian ia memberikan semua itu kepada adiknya
hingga tak terdengar lagi rengekkan. Adiknya kini
diam dan tersenyum kepadanya. Ironis benar kejadian itu. Sembari menunggu adiknya makan ia
melanjutkan menulis,
ya’ mencoba berlatih menulis kembali. Karena perutnya yang kosong membuat ia kurang
konsentrasi hingga bukunya
pun
ia corat-caret, kemudian ia menutup bukunya itu dan menyimpannya kembali
dibalik pakaiannya. Adiknya kembali
tertidur dipangkuannya, rasa laparnya tak bisa ia tahan lagi hingga sisa
kaisannya yang dimakan adiknya tadi ia
makan dengan lahap dan habis seketika. Sebegitu laparnya ia hingga beberapa detik
ia langsung menghabiskan makanan itu.
Anak
itu melihat ke arah datangnya senja, sepertinya ia sedang menunggu seseorang.
Ternyata benar, sosok ibunya
terlihat. Wajah tersenyum
melihat ibunya kembali. Ibu membalas senyuman
kepada anaknya itu, kemudian menciumi kedua anaknya dengan penuh syahdu. Sang
ibu menunjuk ke arah balkonku, katanya
lirih terdengar ditelingaku dari atas balkon, “dulu rumah berbalkon merah jambu itu
adalah tempat tinggal kita nak’ bersama
almarhum ayah”. Setelah itu mereka
pergi bersama dan menjauh dan tak terlihat dari jangkauan mataku. Terkejut seketika
aku mendengar percakapan ibu itu kepada
anak sulungnya, itulah yang membuat aku
bertanya-tanya. Itu
berarti rumahku ini adalah milik mereka tempo dulu. Benarkah begitu? “aku bertanya-tanya dalam hati”.
Tiba-tiba
timpukkan lirih mengarah
kebahu kiriku.
Rasa khas dari tangan ini sangat ku kenal, ya’ itu
adalah tangan hangat dari ibuku. Disty’ sudah sore, mari
masuk nak’. “Ibu membuat
lamunanku pecah”. Sebentar bu
“jawabku”. Bu, Disty mau tanya
sesuatu, boleh? “Disty,
memasang wajah penasaran”. Tanya apa sayang? “ Ibu menanggapi”. Begini bu, sejak kapan kita
menempati rumah kita ini? Kenapa kok
tiba-tiba kamu tanya seperti itu sayang? “Ibu bertanya curiga”. Gak papa bu, Disty pengen tahu
ajah’ kok rumah kita enak banget adem
ada balkonnya lagi, hehehe “Disty meyakinkan ibunya agar mau menjawab pertanyaannya”.
Kira-kira sudah 10
tahun ibu bersama ayahmu
menempati rumah kita sayang,
waktu itu kamu masih bayi nak’.
Ayahmu membelinya dari seseorang
yang dulunya ia kaya-raya tapi semenjak
banyak hutang dan ketipu sama orang lama-kelamaan usahanya bangkrut dan akhirnya menjual rumah miliknya
ini ke ayahmu. Dan sekarang si
dengar-dengar orang tersebut sudah almarhum nak’, dan kabar istri dan kedua anaknya itu
sekarang mereka jadi gelandangan,
kata orang-orang si mereka masih sering lewat di sekitar komplek rumah kita, ya
tak jauh dari komplek rumah kita ini juga mereka mencari rizqinya dengan
mencari barang-barang bekas nak’. “Jawab ibu” Memang
dulu ayah mereka usaha apa bu kok bisa bangkrut? “
tanya Disty lagi”. Dulu, pabrik yang berada di ujung kompleks kita itu, lihatlah “ibu menunjuk ke arah pabrik dari atas
balkon” adalah milik dari pemilik rumah kita
ini, kalau enggak salah si pabrik yang
memproduksi miniatur pesawat terbang dan kereta api nak’
bangkrutnya karena kalah dengan persaingan pasar” jawab ibu mencoba memberi pemahaman kepada Disty”.
Oh jadi begitu, bu. Pantas saja balkon ini
tinggi mungkin agar si pemilik bisa melihat pabriknya lewat balkon ini. “Disty berbicara dalam hati”.
Disty
sayang’ oleh karena itu kita
wajib bersyukur atas karunia Tuhan kepada kita ya’ “Ibu menambahi”. Sudah sore nak’ mari
kita masuk,” ibu mengajak
Disty untuk masuk kedalam rumah”, baik bu “ Disty menjawab sambil meninggalkan balkon merah jambunya”.
