(Rhetor_Online-UIN). Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi
merupakan sesuatu yang tak bisa di hindari dalam kehidupan. Keberadaannya bahkan sudah menjadi bagian gaya hidup seseorang,
terutama kebutuhan terhadap jaringan internet. Di kalangan mahasiswa,Hadirnya
jaringan internet tanpa kabel atau sering di sebut Wi-Fisudah dirasakan
manfaatnya, karena memang pada dasarnya setiap inovasi kemajuan teknologi,
terlebih internet tercipta untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan
manusia, memberikan kemudahan, serta sebagai cara baru untuk melakukan
aktifitas. Wireless Fidelity (Wi-Fi) merupakan fasilitas
yang digunakan oleh hampir semua perusahaan, cafe,
atau tempat makan untuk menarik pengunjung. Begitupun di ruang akademik,
terlebih di level perguruan tinggi, Wi-Fi menjadi fasilitas yang digandrungi
mahasiswa untuk mengakses informasi.
Seperti yang
diungkapkan Miftah mahasiswa Fakultas matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIFA)
Universitas Gadjah Mada, bahwa keberadaan internet dikampus sangat dibutuhkan
karena sekarang sudah memasuki era digital, untuk mengakses informasi kampus
dari mulai pendaftaran, perkuliahan dan lain-lain pun sekarang serba online.
Kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa kita lepas dari internet?, jelasnya.
Setiap kampus
sekarang sudah berbasis IT, namun pengelolaan sistem IT setiap kampus berbeda-beda,
sehingga untuk civitas akademika yang sebagai pengguna akses IT tersebut kadang
kala tidak puas dengan fasilitas internet (Wi-Fi) yang disediakan kampus
karena ketidak stabilan akses internetnya.
“Di setiap
kampus kan berbeda cara pengelolaan IT nya, di sini saja tempat yang banyak di
kerumuni mahasiswa pengguna Wi-Fi hanya di tempat-tempat tertentu,
seperti di fakultas Teknik, di perpus dan lain-lain, karena disana lebih stabil
sinyal Wi-Finya. Ujar Mahasiswa Jurusan Fisika Murni ini saat ditemui di sela
santai.
Menanggapi
persoalan penyediaan fasilitas internet yang dipastikan ada di setiap kampus,
namun manajemen kelola yang berbeda-beda sehingga sekelumit keluhan datang dari
civitas akademik, terlebih mahasiswa yang dalam hal ini adalah sebagai
pengguna, Agung Ariansyah, Kepala Sub Direktorat Infrastruktur dan Keamanan UGM
menjelaskan, saat ini segala material pendukung pendidikan yang dulunya bebasis
kertas beralih ke digital, sekarang ini mahasiswa sudah banyak menggunakan
gadget, yang ada wirelesnya dan bisa menghubungkan ke jaringan internet, jadi
apapun informasi yang butuhkan menyangkut perkuliahan, terutama akademik bisa
di akses melalui itu.
Menurut Agung,
mengenai pembatasan akses juga perlu diperhatikan, seperti akses situs
pornografi, Judi Online dan lain-lain itu perlu di batasi, di blok.
“ Terkait
pembatasan akses itukan sudah di tentukan di Undang-Undang, seperti akses
ponografi dan judi Online, walau pun itu makin berkembang tapi tetap kita
batasi dan blok, kalo masalah pembatasan
jam memang ada yang dibatasi di beberapa tempat, itupun karena alasan keamanan
dan antisipasi terjadinya kriminal” tambahnya.
Meng akses Wi-Fi
di kampus memang meng asyikan, selain gratis karena itu hak mahasiswa atas
fasilitas yang di sediakan kampus, juga karena mudah di akses. Namun, beda
halnya dengan Jajang Nurjaman, Mahasiswa Jurusan Geodesi, Fakultas Teknik, UGM
ini malah lebih nyaman menggunakan Wi-Fi di warung kopi tempat dia biasa
nongkrong, walau dia mahasiswa fakultas teknik, yang di sana banyak dikatakan
tempat tercepat dan terstabil untuk mengaksesWi-Fi, baginya di warung
kopi lebih bisa membuat fokus dan konsentrasi.
“Adanya wifi di
kampus memang sangat membantu, walau kadang banyak lola-nya, tapi meng akses di
warung kopi yang sedia Wi-Fibisa lebih membuat konsentrasi, ya mungkin
karena suasana, juga sambil ngopi. Jelasnya ketika di wawancarai di salah satu
warung kopi ber Wi-Fi.
Ketika ditanyai
prihal pentingnyajaringan internet/Wi-Fi dikampus, harapannya setiap
kampus manapun bisa menyediakan layanan internet, dengan syarat tetap membatasi
dan memantau agar mahasiswa tidak
keenakan dan terjebak pada pragmatisme.
“tiap kampus ya
penting ada akses internet, harus memaksimalkan bahkan, tapi tetap ada batasan
dan pantauan dari pengelola kampus agar mahasiswa tidak terjebak pada
pragmatisme, tak suka baca buku dan lain-lain. Pungkasnya.
Agung
menambahkan, menurutnya setiap kampus perlu memaksimalkan fasilitas internet/Wi-Fi,
terutama di area-area yang sering banyak
diakses mahasiswa, seperti di perpus bila perlu di tambah lagi IP yang lebih
besar, dan harapannya si pengguna bisa mengakses dengan nyaman dan menunjang
pembelajaran.
“Usaha untuk
meningkatkan kualitas harus dilakukan, seperti menambah IP di area-area yang
sering mahasiswa mengakses, di perpustakaan misal, dan harapanya si pengguna
lebih nyaman dan terbantu pembelajarannya” pungkas Staf Direktorat Sistem dan
Sumber Daya Informasi (DSSDI) UGM asal Jember. [Adam]
