Oleh : Ikhlas Alfarisi / @elsofaris
![]() |
| Dok : Istimewa (Relief Pasukan Bhayangkara) |
Bila kita menilik kepada masa lalu, sejarah
bangsa ini di masa kebesaran imperium Majapahit, tentu semua individu dari kita
tidak asing dengan seorang tokoh fenomenal bernama Gajah Mada. Seorang tokoh
pengemban sumpah palapa yang dengannya, disatukanlah kerajaan-kerajaan kecil di
kepulauan Nusantara dibawah naungan Majapahit.
Berbagai literatur masih belum
mengetahui kejelasan, darimana sang jendral ini berasal. Tetapi yang pasti,
lewat novel serial karya Langit Kresna Hariadi, setidaknya penulis sedikit tahu
bagaimana sepak terjang seorang Gajah Mada. Bermulai dari seorang prajurit
berpangkat Bekel ( mungkin saat ini setara letnan), sampai menanjak pada
jabatan mahapatih (perdana menteri) merupakan sebuah titian karir yang luar
biasa.
Kesempatan kali ini, penulis tak
akan terlalu fokus kepada profil sang jendral seorang. Melainkan, secara lebih
lebar lagi penulis akan menilik tentang sepak terjang Gajah Mada bersama
pasukan khususnya yang Beliau pimpin, yaitu Bhayangkara.
Seperti halnya komando pasukan
khusus di Negara kita ini, Bhayangkara mungkin lebih dari sekedar itu. Pasukan
ini juga merupakan ‘Paspampres’ nya kerajaan. Dibentuk lewat sistem
penyeleksian yang super ketat. Bertugas sebagai pengawal raja dan para kerabat
istana. Tentu, orang-orang yang dipilih sudah pasti memiliki tingkat kemampuan
beladiri, keilmuan, dan kecerdasan diatas rata-rata para prajurit yang lain.
Semisal Gajah mada, seorang prajurit
cerdas, cermat dalam menganalisis situasi, pandai mengendalikan keadaan, dan
tentunya mempunyai kemampuan ilmu beladiri yang sudah mumpuni. Selain beliau,
ada juga prajurit Gagak Bongol, Mahisa Kingkin, serta Lembang laut yang
semuanya merupakan para prajurit pilihan.
Atas jasa mereka, negara berhasil
selamat dari malapetaka kudeta, yang didalangi oleh Ra Kuti. Gajah Mada yang
saat itu mengomandoi pasukannya, berhasil dengan sangat brilian menahan bahkan
menghantam balik serangan-serangan makar Ra Kuti hingga berhasil di padamkan.
Negara yang saat itu di adu domba satu sama lain, berhasil di netralkan kembali
oleh mereka.
Pemberontakan Ra Kuti memang
merupakan satu dari sekian pemberontakan di masa Kerajaan Majapahit yang paling
berbahaya. Di tenggarai oleh rasa tidak puas atas hadiah lantaran jasanya ikut
memadamkan pemberontakan Nambi yang diberikan sang raja, Ra Kuti yang awalnya
seorang pembela Negara, berbalik menjadi sang pemberontak bersama para saudara
sejawatnya. Di hasutnya pasukan Jala Ranggana untuk bisa ikut bersekongkol
menyerang istana.
Benar saja, atas semua adu domba dan
serangan dari Ra Kuti, pasukan kerajaan gagal dalam pertarungan, bahkan istana
pun berhasil di jebol dan diambil alih oleh Ra Kuti beserta pasukannya
mengakibatkan sang raja, Prabu Sri Jayanegara beserta seluruh kerabat kerajaan
terpaksa melarikan diri menuju pengungsian. Berkat siasat cerdik dari Gajah
Mada, pasukan khusus Bhayangkara berhasil mengamankan Prabu Jayanegara yang
saat itu menjadi incaran utama Ra Kuti dalam melakukan pemberontakan.
Terlepas dari semua prestasi pasukan
khusus ini, ada satu hal lagi yang menarik yang nampaknya tak bisa di pandang
sebelah mata. Yaitu, bagaimana pasukan Bhayangkara selama melakukan pelarian
keluar istana untuk pengamanan kepada Raja, serta kerabat istana, sangatlah
peduli kepada nasib rakyat kecil yang saat itu porak-poranda tatanan
kehidupannya akibat makar.
Di tengah bergerilya melawan para
pemberontak, mereka tetap bersikap ramah, berusaha menenangkan dan mengayomi
para rakyat jelata. Mereka turut membantu para petani untuk mengembalikan
kesuburan sawahnya, ikut membantu membangun pemukiman warga yang hancur oleh
perang, serta menyantuni para janda dan anak-anak korban perang. Hasilnya,
jadilah mereka satu pasukan militer khusus yang dicintai sekaligus di hormati
oleh rakyat mereka.
Hal ini mungkin bisa jadi bertolak
belakang dengan keberadaan militer di negara ‘penerus’ Majapahit sekarang ini.
Dimana, militer seakan-akan menjadi makhluk yang menyeramkan bagi rakyat sejak
masa ORBA. Seakan-akan merekalah makhluk paling superior di negeri ini. Bisa di
lihat dari bagaimana tindakan-tindakan represif mereka terhadap setiap apapun
yang tidak senada dengan pemerintahan saat itu. Peristiwa MALARI, peristiwa
semanggi, dan puncaknya pada kerusuhan ’98 akibat krisis moneter menjadi saksi
bagaimana sang pembela negara ‘membela’ negaranya dengan cara membabi buta.
Mungkin pandangan akan hal seperti
itu masih terwariskan sampai saat ini, 17 tahun pasca re-formasi. Mungkin pula
bisa berubah, seiring dengan banyaknya media yang mencitrakan militer dengan
segala ‘kebaikannya’. Tetapi, dalam benak penulis rasanya masih ada secercah
rasa ke-optimisan. Bahwa nantinya, akan ada pasukan militer pembela dan
pelindung Negara sekaligus yang ikut mengopeni
rakyat kecil. Menenangkan masyarakat di tengah-tengah banyak
berseliwerannya opini-opini hoax
dewasa ini.
Ya, semoga saja akan lahir kembali
para patriot pembela negara layaknya Bhayangkara yang menjadi idaman rakyat di
masa mendatang. Semoga saja.
Editor : Suhairi Ahmad
Editor : Suhairi Ahmad

