![]() |
| Dok : Pribadi/ #MABAtidaktakut |
Oleh : Ikhlas Alfarisi*
Musim liburan semester ganjil telah
tiba. Musimnya para mahasiswa UIN mulai ancang-ancang membuat wacana liburan,
mudik, atau mungkin juga sibuk perpanjang kos-kosan. Khusus kami para maba
(mahasiswa baru), liburan kali ini merupakan liburan pertama sejak kami 6 bulan
lalu di-plonco dan berhasil menyandang gelar MAHASISWA.
Seperti sudah menjadi tradisi setiap
awal tahun, setelah merampungkan UAS di awal Januari kemarin para mahasiswa
seakan tergopoh-gopoh merancang schedule
‘kegiatan’ mereka selama setengah bulan kedepan. Penulis yang juga merupakan
seorang maba pun merasa akan adanya suatu euphoria
tersendiri bagi kami, Mahasiswa Baru.
Ditengah para mahasiswa tua yang
sedang di-galaukan oleh persoalan skripsi, bimbingan, ngulang kuliah dan
tetek-bengeknya, kami mahasiswa baru malah sedang asyik-asyiknya
berwacana untuk travelling, explore jogja, naik gunung, atau mudik
ke kampung halaman. Pokoknya liburan semester ganjil ini harus keren, puas, nggak krik-krik guna menyongsong semester genap yang makin memusingkan.
Dalam waktu dua minggu lebih ini,
kami akan saling ber-selfie ria, chatting gila-gilaan di grup WA jurusan,
mengajak jalan sang gebetan, atau saling pamer nilai IPK pertama kami satu sama
lain. Bahagia bukan? Ya jelas, karena kami belum di pusingkan oleh njlimetnya KKN, skripsi, ataupun kerja
organisasi. Kami hanya bisa manut kepada para senior kami di organisasi yang
kami pilih. Hanya bisa mengangguk ketika dosen kami memberi tugas segunung dan
mulai menggerutu di kos-kosan seorang diri.
Kemudian, setelah masa liburan itu
mulai habis, kami mulai galau tak tau arah. Saling menanyakan tatacara soal
pembayaran UKT, ngisi KRS dan placement-test
di pusat Bahasa. Teman-teman kami yang ikut organisasi ekstra kampus, yang
kemarin sempat ikut-ikutan demo menentang masalah UKT pun mau tak mau harus
membayar kembali UKTnya, guna bisa melanjutkan protes dan demo mereka di gedung
Rektorat.
Adapun teman kami yang kemarin di
kelas hobi menantang dosennya untuk berdebat, senang mencari-cari celah
kelemahan argumen sang dosen yang pendidikannya sudah S2 itu, juga mau tak mau
harus berebut sinyal wifi untuk ngisi KRS mereka. Setelah susah payah
melakukan pengisian, mereka harus susah payah menghubungi dosen
pembimbing mereka, sekedar meminta tandatangan di KRS mereka. Juga dengan
alasan yang sama, guna bisa melanjutkan masuk kelas, mengajak setiap dosen
untuk beradu argumen dan teori untuk menciptakan suasan kelas yang katanya
dialektis.
Pastinya, kami tak lagi takut untuk
menghadapi berbagai dinamika di kampus. Cukup rasanya mengawali satu semester
ini yang sarat akan peristiwa dan pengalaman di dalam kampus. Kami sudah tidak
takut untuk telat masuk kelas karena sudah tahu caranya titip absen. Kami sudah
tidak takut untuk menggarap tugas segunung karena sudah tahu bagaimana rumus Ctrl-C +
Ctrl-V yang sebegitu ‘sakti’nya. Kami tidak lagi takut untuk diajak
nongkrong ngopi oleh para senior, karena setidaknya kami sudah hafal jalan dan
sudah akrab dengan ibu kos kami dan bisa pulang lebih malam. Tempat-tempat
nongkrong pun kami sampai hafal menu-menunya. Jadi kami tidak takut untuk salah
pilih menu macam koppasus yang pahit rasanya. Harga - harga makanan di burjo
per porsinya, harga nasi gudeg, jajanan angkringan pun kami pun sudah hafal.
Jadi kami tidak takut untuk malu lantaran uang untuk bayar yang kurang.
Ya,
sekali lagi, untuk mengawali semester genap ini, kami tidak takut, hanya galau.
#MabaTidakTakut
*Mahasiswa yang kebanyakan makan mecin

