Oleh: Ika Nur Lutfi
![]() |
| Gajah Mada" Ilustrasi: http://flpmaliki.blogspot.co.id |
Tidak semua ‘a’ menjadi awal dari suatu realita. Perang
tidak begitu saja dimulai hanya karena ada lecutan senjata. Ada himpunan titik
dan garis, juga resonansi pengetahuan yang melengkapi sebuah pertemuan. Tidak,
bukan seperti drama dengan awal perkenalan lalu puncak masalah, klimaks dan happyending. Pemikiran butuh proses, dan
suatu diskusi selalu memerlukan masalah untuk tetap bertahan di batas
pembicaraan. Realita tidak selalu happyending.
Mengutip kata-kata Bung Karno; Jas Merah, tidak muluk-muluk
sebetulnya apabila pelajaran sejarah menjadi kurikulum wajib di strata
pendidikan Indonesia. Pertanyaannya, apakah yang dituangkan dalam kurikulum itu
sesuai dengan fakta ‘sejarah’? tanyakan pada Tuhan. Sebab saksi dan bukti
sejarah seolah lenyap atau didistorsikan menjadi puzzle misterius tanpa penyesalan.
Sejarah bukan hal yang patut dipercaya, tapi suatu bahan kajian pokok yang
sepatutnya diunggah kebenarannya.
Berkubik-kubik kertas mencetak huruf dan kalimat,
menceritakan arus drama masa lalu. Seolah-olah penulis mengerti betul kejadian
saat itu. Sok tahu! Bahkan jika seseorang itu terlibat di dalamnya, tidak semua
hal bisa dipahami dari satu sisi saja. Hanya ketika sebuah pena yang tegas
mencoretkan nama-nama penuh darah dan tulisan tanpa nama tersebar di muka dunia.
Sejarah terbelenggu di balik rezim yang kotor dan udik,
namun apakah semua itu berarti untuk pemikiran masyarakat luas? Tidak,
anak-anak dan cucu-cucu kemerdekaan terlahir dan dipaku ke dalam ‘revolusi’
sejarah. Dibuat buta dan didengarkan pada dongeng kepemimpinan sakral yang
‘protagonis’. Indonesia melipat kenangan pahit, lalu waktu beruntun melahirkan
detik-detik perlawanan sebab cerita kebenaran sesungguhnya memang ada. Tidak
mati dan hilang.
Masih tercetak jelas jejak-jejak dan tulisan-tulisan yang
ingin bergerak, kepingan sejarah Majapahit yang terbentuk kembali di bawah
kaki-kaki Belanda dan tangan-tangan Jepang. Kekalahan dan manipulasi politik
yang berulang. Pergerakan abad 18 hingga 19, peraduan fakta dan fiksi. Seolah
kesempatan saat itu sedang Tuhan berikan supaya bangsa dapat memperbaiki
sejarah. Tapi kemudian orang-orang tumpul dan lumpuh oleh kekuasaan,
lawan-kawan bukan bentuk yang harus dipedulikan. Jiwa merdeka memberontak lalu
terbungkam di sela jeruji. Berkali-kali, berpuluh-puluh badan dilumpuhkan. Tapi
bodohnya manusia, sebab jiwa itu tidak pernah bungkam. Pahlawan tanpa nama
masih terus ada, bahkan meski tanpa embel-embel kesatria atau menteri, mereka
bersuara bersama tulisan-tulisan. Gajah Mada bangkit dalam versi pemuda 90-an. Mendobrak keadaan negara yang tetap
berlutut di bawah anomali pemerintahan.
“Aku bukan
artis pembuat berita” begitulah pembuka syair yang ditulis Wiji Thukul. “Tapi aku memang selalu
kabar buruk untuk penguasa” lanjutnya. Belantara masa
lalu selalu bisa mengusik sisi percaya dan ragu para pemikir serta pencetak
sejarah. Korelasi logika dan realita serta paradoksal sejarah dalam drama
beragensi Negri pertiwi. Ada ruang di bawah sekat-sekat perkuliahan yang mulai
menggeliat, ingin bebas. Meragukan sistem dan merindukan keadilan. Bangsa tak
berbentuk lagi, sistem porak-poranda sebab tak memiliki dasar maupun penyangga.
Kebenaran butuh suara, sebab kita masih berupa kata-kata
saja. Itu sebabnya sejarah mesti diluruskan, cantumkan bahwa negeri ini sedang
sekarat. Dongeng dan angan-angan idealisme tulisan kian bertebaran tanpa
penghargaan yang berarti. Sastra dikaburkan oleh penguasa, sebab sastra tidak
memihak mereka. Tulisan tidak memihak pada kebohongan, seharusnya begitu.
Seharusnya memang seperti itulah sejarah terbentuk.
Mendewasakan akal lewat sepak terjang Gajah Mada hingga
langkah patah-patah pejuang tahun 90-an. Dari Tan Malaka hingga Pramoedya,
tahun 20-an redup lalu meledak lagi di 60-an. Sejarah berulang secara monoton
tapi keadilan dan kesepakatan terhadap kebenaran sepertinya enggan memihak
barang sekalipun. Bukan karena Tuhan berlaku jahat, melainkan ketidakmengertian
pihak-pihak tak bertanggungjawab dan haus kekuasaan bahwa karma memang ada.
Majapahit di era modern terasa lebih dramatis dan menggelikan.
Sebagai mahasiswa yang masih magang di LPM kampus,
pemberian materi seperti itu bukan hal tabu. Meski riskan akan salah paham dan
tingkah gegabah, tapi apa salahnya mengenal lebih jauh sisi lain sejarah?
Walaupun memang, sisi-sisi buta yang masih mengerat di otak pasca SMA ternyata
tetap kagok mengimbangi problema yang sejatinya sangat umum dan jelas. Tahun
1966 menjadi angkatan paling berpengaruh dalam sejarah kesusastraan sekaligus
penentu sejarah paling rumit di Indonesia. Di mana simpang-siur kenyataan
terasa seperti pseudo yang semakin tak berbentuk seiring sistem pemerintahan
pasca reformasi ’98.
Pers tercekat, pena dipatahkan dan suara-suara kecil terus
dibungkam. Jika masih ingat, ada ratusan bahkan ribuan orang yang dibantai pada
peristiwa G30S/PKI, pertanyaannya; apakah para pembantai itu adalah orang yang
benar dan berhak dibebaskan dari jerat hukum? Lalu seperti sebuah rangkaian
tanpa akhir, Trisakti menyisakan genangan pertanyaan yang tak terjawab. 19
orang diculik pada tahun 1998—lenyap atau terlenyapkan karena kekhawatiaran tak
berasalan dari suatu kelompok.Era pengguguran Soeharto menimbulkan banyak pertanyaan,
kekhawatiran lain di masa depan. Sebab pergerakan seperti tunas yang tak bisa
hilang begitu saja.
Saksi bisu dari pergerakan pemuda dan golongan marjinal
saat itu adalah tebaran syair dan puisi dari orang-orang yang peduli tapi tak
dipedulikan. Mahasiswa sebagai penggerak reformasi tertindas dedengkot politik
yang dengan ringannya memutarkan arah pandang masyarakat dan menebar kebencian
‘muslim’ terhadap sesamanya. G30S/PKI pecah, terbentuk sebagai ‘antagonis’
sejarah bangsa. Dipatenkan sebagai musuh negara tanpa penyebutan alasan yang
logis.
Melihat sejarah, melihat drama politik, mendengarkan
rintihan tulisan tanpa belas kasihan yang berarti. Parade puisi koruptor
menjadi awal cerita yang baru di negeri yang sesak dengan pertanyaan dan kering
keadilan. Sejarah tidak butuh dicatat, namun seperti tertulis di awal, sejarah
butuh diluruskan alurnya. Namun, pertanyaan; siapa yang akan meluangkan waktu
dan tenaga untuk itu? Atau; bisakah pelurusan itu tidak dihalangi? Hal-hal
semacam itu bukankah lebih kompleks daripada momen balas dendam mafia?
Indonesia memang rumit, saudara. Itu sebabnya meski banyak
hal yang buram, banyak darah yang ditumpahkan, sebagai penggerak via tulisan,
sepertinya kutipan syair Wiji Thukul patut kita genggam. “Kata-kata itu selalu
menagih padaku, ia selalu berkata kau
masih hidup. Aku memang masih utuh dan kata-kata belum binasa”.

