Oleh: Achmad miftahudin
![]() |
| "Buku Sang Pemula Karya Pramoedya Ananta Toer" |
Tirtho Adi Soerjo, 1880-1918. Ia hanya dikenal sebagai Bapak
Pers Indonesia. Dalam kenyataannya, dia lebih dari sekedar perintis pers.
Pejabat kolonial secara sistematis mendikreditkannya dan menggelapkannya dalam
penulisan sejarah, sehingga orang yang demikian besar peranannya dalam
menggerakkan kesadaran bangsa bisa menjadi seorang non-person dalam
sejarah kebangkitan nasional bangsanya sendiri.
Tirtho Adi Soerjo adalah bangsawan Jawa pertama
yang dengan sadar memasuki dunia perniagaan dan jurnalistik sebagai sarana.
Sebagai wiraswastawan ia merintis kerjasama impor dengan sebuah perusahaan
Prancis dalam mendatangkan kosmetika dengan merk yang ditentukannya sendiri,
yaitu “Poetri Hindia”. Dan ini terjadi pada tahun 1909.
Ia juga merupakan orang pertama yang terjun di bidang
sosial, mula-mula dikerjakan sebagai perorangan, mencarikan kerja, dimulai pada
1902, tanpa memungut biaya. Di samping itu ia juga orang yang pertama dalam
sejarah Hindia yang memberikan bantuan hukum dengan cara yang dimungkinkan pada
waktunya, juga dengan cuma-cuma, mulai 1907.
Selain itu, ia termasuk angkatan pertama penulis fiksi dalam
Melayu lingua-franca. Di bidang bahasa ia peletak pedoman dasar, bahwa Melayu
lingua-franca adalah bahasa bangsa-bangsa di Hindia yang diperintah. Sedang,
bahasa Melayu buku atau sekolah, adalah bahasa yang memerintah. Pedoman dasar
ini dalam perkembangan alamiah terus berlangsung sampai dengan jatuhnya
kekuasaan Hindia Belanda pada 1942.
Dia pendiri organisasi modern pribumi pertama: Sarikat
Prijaji, kemudian Sarikat Dagang Islamijah yang berkembang menjadi Sarekat
Islam. Dia juga yang pertama menggunakan pers sebagai senjata pembela keadilan
bagi si kecil dan dia pun perintis kewiraswastaan pribumi dan banyak lagi
lembaga-lembaga baru lainnya; kesemuanya ditanganinya dengan ekstensitas yang
kobar di tengah-tengah cengkeram kolonialisme yang sedang sampai pada puncak
kejayaannya.
Jauh di kemudian hari Petrus
Blumberger menilainya, bahwa dialah yang telah berusaha memberikan bentuk pada
angan-angan, yang kemudian berkembang di kalangan dagang dan kerajinan di Solo.
Soedjarwo Tjondronegoro menganggapnya sebagai pendiri harian Pribumi
pertama-pertama. Sedang Ki Hadjar Dewantara menampilkannya di samping Wahidin
Soediro Hoesodo sebagai pelopor jurnalistik Indonesia.
Dialah tokoh inisiator kebangkitan kesadaran nasional,
penganjuran wawasan-wawasan awal kenusantaraan dan penggunaan bahasa persatuan,
demikian pun pemrakarsa emansipasi wanita, namun dia pulalah menjadi perintis
kebangkitan nasional dan patriot sebangsa yang dilupakan dan terlupakan.
Sebagaimana telah lazim menimpa seorang pemula, terbuang dan
dibuang setelah jeri payahnya terhisap. Yang jadi pertanyaan: sekiranya ia
tidak memulai tradisi menggunakan pers sebagai alat perjuangan dan pemersatu
dalam masyarakat heterogen seperti Hindia, bagaimana kiranya negara Indonesia
akan terbentuk?, dan pemerintah Republik Indonesia merasa cukup
menganugerahinya dengan gelar sederhana: Perintis Pers Indonesia.

