(Rhetor_Online-UIN).Pembredelan majalah Lentera memicu
banyak reaksi dan kecaman dari berbagai kalangan. Di Yogyakarta banyak aliansi
yang tergabung dalam pers Indonesia juga mengengecam tindakan birokrasi kampus
UKSW dan kepolisisan yang dengan sepihak tidak membolehkan majalah tersebut
beredar.
Kamis lalu (22/10) aksi damai juga dilakukan di tugu Yoyakarta. “Apakah Dosen UKSW dibayar?” sesal Taufiq saat
melakukan orasi.
“innalillahiwainnailaihiroji’un. Turut
berduka cita atas kematian hak bersuara, turut berduka cita atas kematian hati nurani
kita krena pembredelan oleh Polresta Salatigadan UKWS Salatiga. Birokrat dan pihak
kepolisian telah melakukan among, niat baik sudah tidak dianggap oleh aparat. Seharusnya
birokrat UKSW mendukung kebebasan pers.” Kecam Taufik.
Selanjutnya, penyesalan juga
diungkapkan oleh Arfrian seorang massa aksi lainya. “Sebenarnya mereka tau tapi
mereka nggak mau tau, karena birokrasi kampus ini kan punya undang undang nya sendiri
yang harus melindungi kegiatan akdemik kemahasiswaan di kampus. Kepentingan dari
Lentera sendiri terkait 65, pandangannya dari kepolisian akan membangun luka
lama, birokrasi nggak tanggungjawab kok tiba-tiba ada pembredelan seperti itu,”
tuturnya.
Bima Pemimpin redaksi Lentera yang ikut tergabung dalam aksi juga
sepakat untuk melakukan aksi-aksi damai serupa juga dilakukan ditempat lai. “lentera
sepakat tidak akan melakukan apapun kecuali tindakan kayak gini, melakukan orasi
terbuka, tidak akan melakukan serangan terbuka terhadap pimpinan kampus maupun kepolisian
tapi kami sebagai bentuk terimakasih makanya kami datang di aksi solidaritas mahasiswa
di Jogjakarta ini. Sikap dari mahasiswa sendiri sangat sangat mengecewakan hal tersebut.
Besok akan ada aksi damai di walikota dan kepolisian dengan
menyerahkan majalah secara simbolik”. Ujarnya. [Nayla]
