(Rhetor_Online-UIN). Untuk menagih janji, Amuk kembali ke Rektorat untuk meminta data BKT, Sabtu (17/10). 12 masa yang kemarin mengikuti audiensi langsung masuk ke ruang rapat rektorat. Sesampainya di dalam dialogpun dimulai, sebelum akhirnya mengambil data dari PTIPD.
Dialog
diawali penjelasan yang disampaikan oleh Agung sebagai perwakilan dari PTIPD. Sayang,
jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan harapan mahasiswa. Ia menyampaikan
bahwa BKT tahun 2015 berbeda dengan tahun 2013.
"Setelah
pergantian pejabat, tahun 2015 tidak di bentuk tim BKT jadi tidak jelas
datanya," ungkapnya.
Tazam
yang merasa ganjal dengan penjelasan tersebut langsung beri pertanyaan. "BKT
tidak jelas kenapa jadi ada UKT?" gelisahnya.
Dengan
sigap Waryono WR II menanggapinya. "Kalau menanyakan itu, tanya pembuat
SK, yakni Menteri," jawab Waryono.
Kemudian
Viki mahasiswa lainya mengungkapkan UKT itu utopis. "Juk Nis ( teknis
lapangan secara tertulis) belum tentu sama di tahun selanjutnya. Seperti orang
tua yang sekarang masih kerja bisa saja besoknya jadi pengangguran," kata
viki.
Tazam
kembali menambahi pernyataan kawannya tersebut. "92 perguruan tinggi BOPTN
pasti ada masalah, monggo bapak dan ibu berikan statemen, kalau memang tidak
sepakat UKT mari bersama dengan mahasiswa melakukan gerakan," pernyataan
Tazam.
Karena dibrondong pertanyaan, WR III Ruhaini menyampaikan statemennya tanpa ragu. "tak
masalah bila kehilangan jabatan, kembali ke Rp.600.00 ya monggo, tapi saya
tidak rela bila anak hakim yang bawa mobil ke kampus bayar cuma Rp.600.00,'' tandasnya.
Sedangkan
Waryono menawarkan teknis dialog selanjutnya. “Rumuskan kapan waktunya
menyesuaikan, tim inti berapa di plenokan, syukur data dari teman sudah
tertulis," ajak Waryono. [Alvian]
