![]() |
| (Doc: Istimewa) |
(Rhetor_Online-UIN). 10
November merupakan hari bersejarah yang penting dalam perjalanan bangsa
Indonesia. Sejak lebih dari setengah abad yang lalu, tanggal tersebut
dinyatakan oleh bangsa kita sebagai Hari Pahlawan, hari dimana ribuan bahkan ratusan ribu arek-arek Suroboyo bersatu dalam satu
misi dan tekad untuk menghapus
kolonialisme dengan cara angkat senjata. Kini, arti
dari pahlawan mengalami perkembangan. Yang dinamakan pahlawan tidak hanya
seseorang yang berjuang melawan penjajah dengan berperang, tetapi juga orang
yang dapat bermanfaat bagi yang lainnya.
Hal
tersebut seperti yang di sampaikan oleh Dr. Hamdan Daulay, M.Si.M.A, dosen
pasca sarjana di Universitas Gadjah Mada dan di Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga. Menurutnya, kata “Pahlawan” sangat-sangat luas jika dimaknai, baik
dari segi esensi dan tata bahasa, kata “Pahlawan” tidak harus diartikan orang
yang mengankat senjata, tetapi secara umum juga bisa di artikan orang yang
banyak berpahala, orang yang banyak berbuat kebaikan.
“Pahlawan tak
harus di artikan orang yang mengangkat senjata, tapi secara umum berarti orang
yang banyak berpahala, banyak berbuat kebaikan,” katanya.
Lebih
lanjut ia menjelaskan bahwa sosok yang
di sebut pahlawan sangat identik dengan orang yang banyak berjasa, banyak
memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negaranya. Baginya, seorang yang layak
di sebut pahlawan sejati adalah mereka yang banyak memberi tanpa menuntut hal
yang lain, karena apa yang kita dapatkan tergantung apa yang kita berikan.
“Identiknya,
Pahlawan ialah orang yang banyak berjasa bagi bangsa dan negaranya. Ia selalu
mengutamakan, apa yang akan diberikan untuk bangsanya, bukan apa yang akan ia
dapat dari bangsanya, terlebih saat pemimpin-pemimpin bangsa ini banyak yang
mengkhianati semangat kepahlawanan” Jelas guru besar asal kepulauan Bangka
tersebut.
Peringatan
Hari Pahlawan merupakan kesempatan bagi seluruh bangsa, bukan saja untuk
mengenang jasa-jasa dan pengorbanan para pejuang yang tak terhitung jumlahnya
dalam mempertahankan tegaknya Republik Indonesia, namun juga untuk refleksi di
masa sekarang dan masa yang akan datang.
Begitu
pula yang di paparkan Hamdan Daulay, ia
berharap ketika menghadapi situasi yang kian kompleks di negara kita seperti
sekarang ini, muncul banyak pahlawan masa kini dalam segala kehidupan. Karena, Bangsa
ini membutuhkan banyak pahlawan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat
secara politik, berdikari secara ekonomi dan berkepribadian secara sosial dan
budaya. Ia juga mengungkapkan optimisme nya, baginya Pahlawan akan selau ada,
bisa siapa saja, yang mau berkarya sesuai dengan profesi yang sedang
diamanahkan kepadanya dengan menghasilkan prestasi dan karya luar biasa bagi
kehidupan bangsa Indonesia.
“Mahasiswa
bisa jadi pahlawan ketika ia belajar dengan baik untuk masa depannya,
memberikan kebanggaan bagi masyarakat luas, khususnya bagi orang tuanya. Petani
juga seorang pahlawan, karena cucuran keringatnya ia dapat menghidupi
keluarganya. Begitupun Guru dan Dosen yang melaksanakan tugasnya dengan baik,
dengan niat untuk mencerdaskan anak bangsa. Itu juga pahlawan,” tutur Hamdan.
Menurut
Dosen yang aktif di bidang kajian jurnalistik ini, akan sangat di sayangkan
bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni belaka tanpa mengambil hikmah
dari nilai-nilai dan cita-cita perjuangan untuk di aplikasikan dalam realitas
kehidupan. Semua elemen, terlebih Pemerintah negeri ini yang sangat mempunyai
andil besar dalam menjamah segala sisi kehidupan bangsanya, harus introspeksi
dan meluruskan tujuannya kembali agar sesuai dengan semangat dan esensi
perjungan para pahlawan.
“Sekarang
banyak terjadi kejahatan yang luar biasa dari pimpinan-piminan kita, di semua
lini terjadi persekongkolan, korupsi merajarela di negeri ini, tentu itu sangat
menodai semangat dan cita-cita pahlawan terdahulu,” Ungkapnya.
Harapnya,
pemerintah harus mau berubah, jika selama ini masyarakat mempunyai stigma buruk
dan memandang imej pemerintah banyak berlumuran dengan praktik-praktik korupsi
dan nepotisme, maka pemerintah harus berani berbuat tegas, terlebih di ranah
hukum, jangan sampai tajam ke bawah, tumpul ke atas.
“Jika
selama ini ada imej tidak baik di tengah masyarakat, pemerintah harus mau
berubah. Tegakkan hukum dan sanksi yang tegas agar penyakit itu
(Korupsi-Nepotisme) tidak merambah kemana-mana. Tak ada kesalahan yang tak bisa
diperbaiki,” Pungkas Dosen yang bergelut di bidang Jurnalistik dan Ilmu Politik
tersebut saat di wawancarai seusai cek kesehatan di Poliklinik UIN Su-Ka,
Yogyakarta. [Adam Mozlem]

