![]() |
| Merdeka : Kordinator lapangan Aksi AMP menyampaikan orasi politiknya sambil disambut teriakan 'Merdeka' dari massa aksi AMP, Sabtu (19-12-2014). Doc : Rhetor_Online |
Yogyakarta, Rhetor_Online - Aliansi
Mahasiswa Papua (AMP) yang berdomisili di DIY dan Jawa tengah kembali turun
jalan untuk menyampaikan aspirasi. Kali ini mereka memilih bundaran Universitas
Gajah Mada Yogyakarta sebagai lokasi. Aksi ini dilakukan pada tanggal 19
Desember 2015, atau tepat sebagai hari pendeklarasian Tri Komando Rakyat oleh
Soekarno pada tanggal 19 Desember silam. AMP menganggap bahwa TRIKORA merupakan
ekpresi awal dari penjajahan Indonesia atas bangsa Papua. Mereka dengan tegas menyatakan
bahwa Negara Papua sudah sah dan bukan bentukan Belanda.
“Kebebasan
demokrasi sudah jelas diatur, termasuk untuk menentukan nasib sendiri
sebagaimana diatur dalam pembukaan Undang-undang dasar 45, jadi Negara
Indonesia harus menghentikan penjajahan atas Rakyat Papua dan segera mengakui
kemerdekaan Papua,” kata kordinator aksi AMP saat menyampaikan statemennya.
Diikuti
ratusan anggota AMP dari DIY-Jateng, aksi tersebut dilakukan secara damai
dengan melakukan orasi politik dan penyebaran selebaran. Sebelumnya, AMP,
khususnya di Yogyakarta sering melakukan aksi serupa. Hal itu dilakukan sebab
tuntutan mereka sampai sejauh ini belum dipenuhi oleh Pemerintah. Alih-alih
dipenuhi, aksi mereka dan rakyat Papua lainnya justru mendapatkan represi dari
Negara melalui militer dan gerakan sipil reaksioner.
“Di
jakarta, saudara kita ditangkapi dan dipukuli oleh Polisi, di Papua banyak
saudara kita yang ditembak dan dibunuh oleh militer, hanya karena kita menuntut
hak-hak kita untuk merdeka. Ini negara Indoneseia katanya Demokratis, tapi
masih terus menjajah tanah Papua,” kata Mikael Kudai, Juru Bicara AMP di aksi
itu.
Pelangaran
HAM berupa kekerasan Fisik dan diskriminasi memang banyak menimpa rakyat Papua.
Menurut release yang mereka sebarkan, sudah terjadi banyak kasus kekerasan yang
dilakukan militer, baik berupa penembakan hingga pembunuhan. Kekerasan itu
menurut AMP di lakukan Negara melalui operasi militer.
Dijelaskan
AMP, Beberapa gelombang infiltrasi operasi militer yang dilakukan di Papua
Barat melalui Udara dan Laut, seperti operasi Banten Kedaton, Operasi Garuda,
Operasi Serigala, Operasi Kancil, Operasi Naga, Operasi Rajawali, Operasi
Lumbung, Operasi Jatayu, Operasi Show of Rorce, Operasi Cakra dan Operasi
Lumba-lumba. Sedang operasi ekploitasi dilakukan dengan operasi Jayawijaya dan
Operasi Khusus (Otsus).
“Melalui
Operasi itu wilayah Papua Barat diduduki, dan dicurigai banyak orang Papua yang
telah dibantai pada waktu itu,” ungkap AMP di release itu.
“Berbagai
kasus kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan militer Indonesia terhadap
rakyat Papua lainnya tidak terhitung jumlahnya,” ungkap AMP.
Tak
hanya soal Trikora dan kekerasan Militer, AMP juga menuntut agar perusahan multinasional seperti
Freeport, BP, dan Tangguh untuk ditutup dari tanah Papua, karena dianggap
dalang dari kejahatan kemanusiaan ditanah Papua.[Riza]

