![]() |
| Doc.Rhetor/Faris : Laily Nur, Mahasiswi FTK |
(UIN-Rhetor_Online) Pemilihan Wakil Mahasiswa
(Pemilwa) telah usai dilakukan oleh Panitia Pemilihan Umum (PPUM)
UIN Sunan Kalijaga pada Kamis
(3/12) lalu. Saat hari proses pencoblosan banyak peristiwa yang mengagetkan, salah satunya
kejadian na'as yang menimpa Laily Nur, mahasiswi asal Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK).
Ia mengalami pingsan di tengah-tengah
antrean menuju pencoblosan.
Saat itu, Rhetor_Online sedang memantau jalannya Pencoblosan mencoba untuk
meminta keterangan
langsung Laily terkait
Pemilwa 2015. Berikut wawancaranya :
Pemilwa diadakan kembali tahun ini, bagaimana kondisi
perkembangannya sepanjang hari ini?
Ya, menurutku sih, pada tataran prakteknya masih kurang kondusif. Pihak
PPUM-F sebagai penyelenggara masih terkesan maunya praktis. Tapi, enggak
memikirkan kondisi mahasiswa yang lain secara keseluruhan. Buktinya yaa saya
ini, jadi korban di tengah-tengah sesaknya antrian yang kurang teratur.
Mengenai calon-calon HMJ dan Presma yang maju pada
pemilihan kali ini, bagaimana pandangan Anda ?
Pandanganku, dari mereka-mereka yang maju, punya kapasitas buat memimpin
kami di fakultas dan juga di tingkat Universitas. Mudah-mudahan mereka gak
hanya cari nama dan eksis di kampus, tapi bisa melakukan yang seharusnya
di lakukan.
Kemudian, tanggapan Anda tentang diadakannya Pemilwa
tahun ini ?
Saya rasa masing-masing kubu (partai), seharusnya jangan sampai mengadakan
kampanye secara berlebihan, dan juga harus patuh pada regulasi. Jangan
asal-asalan menyebarkan stiker, poster, dan sebagainya. Bagaimana kita
mau menciptakan demokrasi di kampus, tapi masing-masing kubu masih
mengedepankan ego mereka. Padahal mereka itu kan sama-sama satu kampus,
terlebih sama-sama beragama islam.
Nah, terakhir. Harapan kedepan untuk para calon yang
terpilih?
Buat para calon yang terpilih, agar bisa adil. Tidak mementingkan golongan
mereka dalam hal penampungan aspirasi. Kemudian, yang paling penting adalah
mereka bisa segera menetralkan pergesekan berbagai kubu yang selama ini
meresahkan. Pokoknya, seorang pemimpin itu bisa mempertimbangkan baik-buruknya
setiap hal yang ada di kalangan mahasiswa. [Ikhlas Alfarisi & Javang]

