(Rhetor_Online-Yogyakarta) Lebih dari 30 orang mahasiswa yang
tergabung dalam Front Aksi Mahasiswa Jogjakarta (FAM-J) melakukan aksi damai di
pertigaan Revolusi pada Jum’at siang (15/01). Aksi ini dilaksanakan dalam
rangka memperingati 42 tahun peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari).
Dalam aksi ini mahasiswa memberikan
beberapa tuntutan, diantaranya, menolak praktek Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) di
perguruan tinggi negeri. selain itu, front juga meminta pihak birokrasi kampus
untuk menghapus Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta enuntut pemerintah agar segera
mempersiapkan secara matang terkait dimulainya kebijakan Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA) 2016.
![]() |
| Doc: Rhetor_Fahri "Aksi peringati Malari di pertigaan Revolusi" |
Multazam, selaku Koordinator Umum, mengatakan bahwa aksi ini
dilaksanakan agar masyarakat dapat memahami kedaulatan ekonomi Indonesia yang
selama ini berada dalam belenggu penjajahan.
“Peristiwa Malari adalah perjuangan kedaulatan ekonomi. Mahasiswa pada
saat itu rela menumpahkan darahnya demi kemerdekaan ekonomi bangsanya. Belenggu
penjajahan ekonomi di negeri ini harus segera ditumpas,” kata Multazam dalam
orasinya.
Multazam melanjutkan orasinya dengan menuntut pemerintah agar
mempersiapkan secara matang hal apapun untuk menghadapi MEA 2016. Menurutnya,
pemerintah sebenarnya tidak siap dalam menghadapi peperangan ekonomi di Asean
ini.
Sedangkan Wika, massa aksi lainnya, menyatakan bahwa praktek NKK/BKK
yang terjadi di kampus justru akan menekan kreativitas mahasiswa. Menurutnya,
mahasiswa selama ini terlalu di-nina bobo-kan oleh kampus.
“NKK/BKK itu justru membuat mahasiswa menjadi pragmatis, membuat mereka
(mahasiswa) larut dan tertidur lelap dalam kenyamanan. Mahasiswa justru menjadi
semakin tidak kreatif dan cenderung kaku,” kata Wika dalam orasinya.
Walaupun membuat lalu lintas sedikit padat, aksi mahasiswa ini tetap
mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar.
“Bagi saya, aksi mahasiswa ini sah-sah saja. Turun aksi di tengah-tengah
pertigaan ini hanyalah salah satu bentuk sikap, yang dilakukan mahasiswa, agar
aspirasi mereka yang mewakili rakyat didengar oleh pemerintah,” kata Ihsan,
seorang pengamat ekonomi yang sengaja hadir di lokasi.
Selain Ihsan, warga lainnya, M. B. Projonolo Husodo, juga mengomentari
aksi mahasiswa ini. Menurutnya, aksi tersebut sedikit banyak telah memberikan
pengaruh terhadap kehidupan rakyat. Baginya, mahasiswa jangan gentar dan jangan
takut dengan komentar-komentar miring dari sekitar. Jika perlu, aksi tersebut
seharusnya dilakukan di gedung DPRD agar lebih di dengar oleh para wakil
rakyat.
“Saya senang kalo ada demonstrasi, itu artinya demokrasi di negeri ini
telah dilaksanakan dengan baik. Selain itu, saya sebagai masyarakat juga mengucapkan
terimakasih karena masih ada orang yang mau menyampaikan aspirasi rakyat. Kalo
perlu dilakukan di gedung DPRD tuh mas,” katanya, sembari jalan-jalan.
Setelah rangkaian aksi tuntas dilaksanakan. Mahasiswa membubarkan diri
dengan aman.[Fahri]

