Oleh: Fahri Hilmy
Awal
abad ke-20 merupakan titik balik kemajuan kehidupan sosial di Indonesia.
Perubahan besar ini meng-konfrontasi nilai-nilai tradisional yang telah
mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia secara intensif pada saat itu.
Sebagian masyarakat Indonesia bahkan sudah ada yang mulai melepaskan identitas
kekunoan tersebut. Pesatnya perkembangan pendidikan barat dan mulai
digunakannya teknologi modern tentu sebuah sebab musabab perubahan sosial itu.
Melepaskan
nilai tradisional membuat mereka mencari-cari pegangan baru. Sebagian mencari
di dalam pemikiran-pemikiran Islam, sebagian lagi hanya me-relevansikan
kebudayaan lama dengan zaman itu, bahkan di sebagian lain ada pula yang mulai
merambah ke dalam pemikiran-pemikiran barat.
Pada
awal abad ke-20 itu kita tahu mulai mengakarnya aliran-aliran – yang terkadang
saling bertentangan – bermunculan secara pesat. Terbentuknya Boedi Oetomo yang
digawangi oleh kaum priyayi dan Sarekat Islam oleh kaum santri merupakan bukti
nyata kesadaran bangsa Indonesia untuk merubah pola kehidupan sosial masa itu.
Dalam
artikel ini penulis ingin mempersempit pembahasan ke dalam perkembangan atau
lebih tepatnya ke dalam perjalanan panjang yang dilakukan oleh Sarekat Islam
(SI) Semarang pasca dilantiknya Semaoen tahun 1917 sebagai presiden organisasi.
Lebih sempit lagi, dalam artikel ini penulis ingin membahas awal semula
masuknya paham Marxisme di Indonesia.
6
Mei 1917 merupakan awal mula kepemimpinan Semaoen – yang pada waktu itu berusia
19 tahun – setelah diserahkan padanya jabatan oleh presiden sebelumnya,
Moehammad Joesoef. Pergantian ini menandakan dimulainya era baru SI Semarang
dengan arah pergerakan yang baru pula.
Selama
kepemimpinan Joesoef, SI Semarang lebih banyak beranggotakan dan dipimpin oleh
kaum kelas menengah dan para pegawai negeri. Sedangkan, selama kepemimpinan
Semaoen, SI Semarang kini beranggotakan kaum buruh dan masyarakat kelas bawah.
Hal ini merupakan wujud awal pergantian haluan pergerakan SI Semarang. Sejak
saat itu, lahirlah gerakan kaum Marxist pertama di Indonesia.
Revolusi
di internal SI Semarang ini sebenarnya sedikit pun tidak dipengaruhi oleh hal
apapun, melainkan kehidupan sosial masyarakat pada saat itulah yang membuat
dimulainya gerakan revolusi yang signifikan ini. Penindasan yang dilakukan oleh
pihak Imperialis saat itu sudah terlalu membuat bangsa ini gerah dan marah yang
sudah tidak terbendung. Monopoli agraria, pengendalian bumiputra dalam
pertahanan Hindia Belanda, penindasan kaum buruh dan munculnya
kapitalisme-kapitalisme jahat adalah beberapa pemicu kemarahan rakyat
Indonesia.
Adalah
Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, atau biasa dikenal dengan nama Henk
Sneevliet, orang Belanda pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap
pergerakan kaum sosialis di Indonesia serta
membawa
paham Marxist. Tidak terlepas tokoh-tokoh seperti Darsono, Alimin, Musso, Tjipto
Mangoenkoesoemo dan Semaoen adalah beberapa yang masuk dalam pengaruhnya.
Sneevliet
adalah mantan ketua Serikat Pekerja Kereta Api Hindia Belanda. Sneevliet menyatakan
dirinya murni mewakili kepentingan buruh, kelas terhisap, dan aktif pula dalam
melawan eksploitasi yang dilakukan oleh Kolonial masa itu. Jadi, dapat
dikatakan bahwa Sneevliet berada di pihak yang sama dengan kaum tertindas
bumiputra saat itu.
Pada
tanggal 9 Mei 1914, Sneevliet mendirikan ISDV (Indisce Sociaal Democratische
Vereniging) atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda. Suatu partai yang
didasarkan pada prinsip-prinsip sayap kiri organisasi buruh. Walaupun partai
ini bentukan orang Belanda, namun tak sedikit para intelektual-intelektual
revolusioner bangsa Indonesia juga menaruh hormat padanya. Kesamaan tujuan
merupakan alasan kenapa pada tahun kedua jumlah anggota partai ini meningkat
pesat dari sebelumnya, dan sebagian besar berasal dari pribumi.
Sneevliet
berpendapat bahwa sebab dari kesengsaraan rakyat Indonesia adalah akibat dari
struktur masyarakat tanah jajahan yang diperas oleh kaum kapitalis, walaupun
pembentukan ISDV bukan bertujuan untuk memerdekakan Indonesia.
Hubungan
Sneevliet dengan Sarekat Islam sebenarnya berawal dari pertemuannya dengan
Semaoen diVereeniging van Spoor- en Tramwegpersoneel (VSTP) sebuah Perserikatan
Buruh Kereta Api dan Trem. Semaoen yang pada saat itu
menjabat sebagai pegawai administrasi jawatan Kereta Api Hindia Belanda memang
sudah memiliki hubungan persahabatan dengan Sneevliet. Dalam persahabatan
itulah, Semaoen mendapatkan banyak pelajaran tentang sosialis dan tidak sedikit
pula paham marxisme dari Sneevliet, teman sejawatnya.
Setelah
dilantiknya Semaoen menjadi presiden SI Semarang, paham sosialis yang dibawa
oleh Sneevliet semakin menancapkan akarnya dalam-dalam pada tubuh Sarekat
Islam. Dari Sneevliet lah angkatan-angkatan muda SI belajar menggunakan
analisis Marxistis untuk memahami realitas sosial yang dialami.
Mengakarnya
paham sosialis di tubuh SI menuju klimaksnya pada kongres nasional Centraal
Sarekat Islam (CSI) ke-2 yang diselenggarakan dari tanggal 20 hingga 27 Oktober
1917. Kongres yang dihadiri oleh seluruh utusan Sarekat Islam di seluruh
Indonesia itu merumuskan suatu program kerja yang memperjuangkan perlindungan
bagi kaum miskin dan tertindas. Dalam teks program kerja tersebut, CSI bahkan
dengan terang-terangan mengatakan akan memerangi kapitalisme-kapitalisme jahat
(istilah untuk kapitalisme asing) dan mengakui bahwa keberadaan mereka akan
sangat berakibat buruk bagi penduduk bumiputra.
Dalam
program kerja tersebut, terlihat jelas bahwa paham sosialis sudah merambah ke
dalam tubuh CSI. Semaoen merasa puas dengan perumusan tersebut. Koran Abdoel
Muis, Kaoem Moeda, yang terbit dua hari setelah kongres bahkan
mengatakan “Sarekat Islam sekarang soedah bernada sosialis”.
Atas
dasar tersebut, SI Semarang mulai menunjukan eksistensi gerakan-gerakannya
dengan melakukan beberapa aksi dalam menuntut hak persamaan rakyat.
Pemogokan-pemogokan terjadi di beberapa perusahaan-perusahaan Hindia Belanda.
Kaum buruh kini dengan berani menuntut hak-hak mereka kepada manajemen perusahaannya
sendiri. Kenaikan gaji, pengurangan jam kerja, dan permohonan uang pesangon
bagi yang dipecat menjadi beberapa isu yang diangkat.
Pemerintahan
kolonial yang otoritarian terhadap bumiputra dengan sifat utamanya yaitu,
menindas dan mengeksploitasi, tidak tinggal diam. Pembuangan-pembuangan para
aktivis dan pemutusan hubungan kerja besar-besaran dilakukan. Namun, kaum buruh
tidak pernah gentar. Di bawah payung advokasi Semaoen, perlawanan terus
dilancarkan.
