![]() |
| "aksi menolak pencaplokan laut Timor Leste oleh FPD dan mahasiswa Timor Leste di pertigaan UIN Jogja, Selasa 22/03" (Doc: Rhetor-Faris) |
Oleh
karena itu, bagi rakyat Timor Leste pencaplokan wilayah tersebut adalah ilegal.
Sejak Timor Leste sendiri merdeka, setidaknya lebih dari lebih dari 5 Miliar US
Dollar yang didapat oleh negara Australia dari hasil eksploitasi minyak di pantai
itu.
Menanggapi
hal tersebut, Front Perjuangan Demokrasi (FPD) mengadakan aksi solidaritas pada
Selasa, 22/03. Aksi yang diadakan di pertigaan lampu merah UIN Sunan Kalijaga
ini, diadakan menanggapi sengketa antara Timor Leste dan Australia pada masalah
batas wilayah maritim dan sumber daya alam.
Aksi
ini berangkat dari pembacaan yang dilakukan FPD dan AMTL (Aliansi Mahasiswa
Timor Leste), tentang adanya eksploitasi sumber daya alam, minyak, oleh
Australia secara ilegal yang merugikan rakyat Timor Leste. “Negara Imperialis
Australia tidak mau mengakui kedaulatan rakyat Timor Leste. Negara Australia
telah mematok secara sepihak di batas wilayah maritim Timor Leste dengan
membangun industri perminyakan dan pertambangan disana. Ini yang menyebabkan
Rakyat Timor Leste menuntut kepada Australia untuk angkat kaki di wilayah
mereka,” tutur Gevan, Kordinator lapangan pada aksi siang tadi
Dalam
aksi ini, salah satu tuntutanya adalah, agar Mahkamah Internasional secepatnya
untuk bertindak mengadakan negosiasi antara kedua negara untuk menyelesaikan
masalah hukum laut kedua belah pihak. Selain itu, Hadi, massa aksi yang lain
menuturkan bahwa, aksi ini merupakan solidaritas rakyat Internasional yang
bersama-sama melawan bentuk segala imperialisme dan kapitalisme di dunia.
“Walaupun
Timor Leste sudah lama pisah dari NKRI, kami tetap mendukung mereka untuk
meraih kedaulatan. Karena saya sebagai warga indonesia paham, pada pembukaan
UUD ’45 tertera bahwa kemedekaan adalah hak segala bangsa, sehingga segala
bentuk penjajahan di muka bumi ini, harus dihapuskan”, Tegas Hadi. [Ikhlas Alfarisi]

