![]() |
| secangkir kopi. |
Kopi merupakan salah satu minuman yang paling digemari banyak
orang. Dari setiap tiga orang di dunia, salah satunya adalah peminum kopi. Kopi
memang nikmat jika diminum baik pagi hari ataupun saat malam hari ketika dilanda
pekerjaan yang menumpuk.
Kopi sendiri merupakan salah satu komoditas di dunia yang
dibudidayakan lebih dari 50 negara. Kopi kemudian terus berkembang hingga saat
ini hingga menjadi salah satu minuman paling populer di dunia yang dikonsumsi
oleh berbagai kalangan masyarakat. Indonesia sendiri telah mampu memproduksi
lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya.
Indonesia berupaya menggenjot ekspor kopi ke Amerika Serikat dengan
mengikuti pameran kopi Specialty Coffe Association of America Expo 2016 di
Atalanta, Georgia, 14-17 April 2016. Salah satu catatan penting dari gelaran pameran
tersebut adalah komitmen impor kopi dari Indonesia oleh perusahaan-perusahaan
AS dengan nilai mencapai Rp 240 miliar.
Di Indonesia, kopi mempekerjakan tak kurang dari 2 juta petani dan
ratusan ribu pekerja yang terkait dengan pemrosesan kopi hingga ekspor. Sekitar
90 persen produsen kopi Indonesia adalah petani kecil. Banyak sekali masyarakat
Indonesia yang tidak sadar bahwa negara kita tercinta, Indonesia, adalah
penghasil kopi terbesar nomer tiga di dunia (setelah Brazil dan Vietnam).
Sejarah mencatat bahwa penemuan kopi sebagai minuman berenergi dan
berkhasiat pertama kali ditemukan oleh Bangsa Ethiopia di benua Afrika sekitar
3000 tahun yang lalu. Sedangkan menurut legenda Arab, kopi ditemukan oleh
seorang pemuda Arab bernama Kaldi, seorang penggembala kambing. Ia selalu
memperhatikan bahwa kambingnya selalu menunjukkan gejala gembira setelah
menggigit biji dan daun suatu tanaman hijau. Karena penasaran, ia mencoba biji
tanaman tersebut dan merasakan efek semangat serta gembira. Akhirnya penemuan
ini menyebar dari mulut ke mulut.
Bisnis kopi pun telah menjadi bisnis puluhan miliar rupiah. Ketika Anda
menikmati padatnya keramaian Kota Yogyakarta, cobalah sekali-kali ketika sedang
berkendara sambil melihat kanan dan kiri. Tidak sampai 50 meter –ataupun kurang
bahkan- pasti ada sebuah kedai yang didalamnya menawarkan berbagai macam kopi,
baik itu di jalan raya maupun jalan kecil (baca: jalan biasa). Kalau boleh
ditaksir, bisa melebihi angka seratus jumlahnya. Belum lagi warung-warung
makanan yang juga –pastinya- menyediakan kopi sebagaimana dalam list minumannya.
Kita masih berbicara Kota Yogyakarta, belum Surabaya bahkan Jakarta. Bisakah
kita bayangkan berapa rupiah uang yang berputar dalam satu hari saja di seluruh
wilayah Indonesia. Dalam satu bulan bahkan tahunan, uang puluhan miliar rupiah
berputar ‘gegara’ kopi, realistis bukan?
Selain manfaat dari sisi finansial, kopi juga bermanfaat dari sisi
sosial. Di mana dengan hanya secangkir kopi, kita bisa mengajak teman dekat
untuk kumpul bersama. Bisa saling bercengkerama, canda tawa, bahkan saling
berbagi informasi maupun pengetahuan yang ada, yang menjadikan kita sebagai
manusia seutuhnya, yakni selalu berpikir tentang kehidupan yang ada. Bisakah
kita angankan berapa banyak forum diskusi yang ada di negara kita dengan
ditemani kopi di tengah-tengahnya. Berapa juta lembar informasi yang
dilontarkan oleh orang-orang yang membuat forum tersebut apabila dibukukan ke
dalam sebuah kertas.
Para pelajar ketika punya tanggungan tugas yang menumpuk, ada
secangkir kopi di sebelahnya. Para pekerja ketika ada jam lembur, terdapat kopi
yang telah disediakan. Begitu pun seminar-seminar, pasti ada sesi coffee
break di sela-selanya. Diskusi pemerintahan juga demikian, ketika memasuki ‘wilayah’ lembur acap kali
dihidangkan kopi di tengah-tengahnya. Semua itu terdapat satu titik temu, yakni
adanya kopi. Betapa begitu sentralnya peran sebuah kopi bagi seluruh kalangan
masyarakat, siapa pun dan kapan pun. Lagi-lagi hal ini ‘gegara’ kopi, realistis
bukan?
Tuhan menciptakan makhluk di bumi ini dengan berpasang-pasangan.
Laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, sebab-akibat, bumi dan langit, si kaya
dan si miskin. Semuanya itu diciptakan tidak hanya untuk melengkapi semata,
namun juga bertujuan untuk keelokan kehidupan. Tidak mungkin Tuhan hanya
menciptakan manusia yang kesemuanya laki-laki. Tidak mungkin pula Tuhan hanya
menciptakan bumi semata, di mana akan menjadikan nilai estetika di kehidupan
ini berkurang. Tak enak dipandang.
Demikian juga apabila kita hendak bertindak terhadap sesuatu, pasti
ada sisi positif maupun sisi negatifnya. Apabila boleh dikatakan, absurd
jadinya apabila terdapat suatu hal yang berakibat dalam satu sisi saja. Begitu
pun sifat yang terkandung ketika kita mengonsumsi kopi. Ada yang berakibat baik
yang siap menopang diri kitadan perekonomian negara –sebagaimana yang telah
dikemukakan di atas, juga di sisi lain terdapat efek buruk yang mengancam
eksistensi jiwa kita.
Sebuah penelitian di Belanda menunjukkan bahwa kopi dapat
meningkatkan kolesterol hingga 10 persen. Khususnya jika kopi yang diminum
tanpa disaring dan langsung dipanaskan. Kolesterol sendiri dikenal sebagai
penyebab gangguan jantung. Seorang ahli nutrisi dari Inggris merekomendasikan
untuk minum kopi yang segar dan bukan kopi yang sudah diolah, dipanaskan dan
dididihkan selama beberapa waktu.
Para ahli menyarankan bagi para penggemar kopi untuk minum kopi
secara wajar. Yakni untuk menghindari minum enam atau lebih cangkir kopi dalam
sehari. Bagi mereka yang mengalami gangguan jantung, gangguan ginjal, maupun
tekanan darah tinggi sebaiknya minum kopi cukup satu cangkir sehari. Untuk
wanita hamil dan menyusui, sebaiknya juga minum tidak lebih dari secangkir kopi
sehari.
Kopi memang nikmat, namun kesehatan jauh lebih penting dibanding
menikmati kopi secara berlebih. Untuk yang terakhir kalinya, hal ini ‘gegara’
kopi juga, realistis bukan?
Selamat menikmati secangkir kopi Anda!
Penulis adalah mahasiswa jurusan Muamalat
Fakultas Syariah dan Hukum
UIN Sunan Kalijaga.

