Septia Annur Rizkia
![]() |
| Ilustrasi: Istimewa |
Sangat disayangkan,
peringatan hari Ibu kita Kartini hanya menjadi euforia selebrisa semata. Dengan
mengenakan kostum kebaya yang semenarik mungkin dan gaya sanggul yang dikenakan
Kartini, seperti itulah kebiasaan yang mengakar pada tradisi masyarkat Jawa
terkait hari Kartini yang terkesan pragmatis.
Sejak
TK, SD, SMP sampai SMA pun, para murid terpelajar ini sudah di ajak
meramaikan peringatan kelahiran Ibu
pertiwi bangsa ini. Tanpa adanya hirroh dari perjuangannya yang tak cukup
selesai pada hari perayaannya saja. Melainkan implementasi dalam kehidupan
sehari-hari baik sebelum maupun sesudah hari besar itu.
Dalam tulisan
ini penulis mencuba untuk menguraikan untuk apa dan
mengapa ada peringatan hari Kartini. Pertama,
Kartini dilahirkan pada tahun 1879, dimana saat itu merupakan masa politik
etis. Boleh dibilang, Kartini adalah seorang pendobrak
tatanan masyarakat yang sangat diskriminatif terhadap perempuan yang dianggap
sebagai warga negara kelas kedua
waktu itu.
Kartini mampu merintis sekolah perempuan pertama di Indonesia, yang kemundian menjamur ke berbagai
wilayah. Mungkin
dari sanalah kemudian lahir para intelek perempuan.
Kedua,
Kartini melihat perjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan,
pendidikan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih
luas. Sebagai keluarga ningrat,
berbagai peraturan tentu melekat pada dirinya. Meskipun tradisi
Jawa membelenggu eksistensi seorang perempuan untuk tampil dan bereksplorasi di
publik, dengan semangat dan
kegigihannya dia berani tampil beda.
Kartini
juga tidak pernah mengajarkan
Emansipasi perempuan yang menuntut persamaan hak antara laki-laki dan
perempuan. Bukan pula Emansipasi perempuan yang di definisikan bahwa perempuan
harus keluar rumah dan berkarier untuk menjadi pesaing laki-laki.
“Kami
di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan,
bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi
saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan
pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cakap melakukan
kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya:
menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Kepada Prof. Anton dan
Nyonya, 4 Oktober 1902).
Ketiga, Pemikiran-pemikiran
Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya mampu menarik perhatian masyarakat
Belanda, kemudian mengubah cara pandang masyarakat
Belanda terhadap perempuan pribumi. Selain itu, Kartini juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh
kebangkitan nasional. Dengan semangat bergelora ia membangkitkan kesadaran untuk menggugat feodalisme
dan kolonialisme yang mengancam keberadaan perempuan untuk bergerak dan
bersuara.
Indonesia
butuh Kartini-kartini muda untuk meneruskan perjuangan bangsa dan mampu mendobrak dunia. Penulis lebih sepakat memaknai hari
Kartini sebagai spirit atas perjuangan perempuan yang berani untuk berusaha
menghancurkan sistem yang mengukung budaya masyarakat pribumi. Perjuangan ini membutuhkan penerus, agar tak sia-sia peluh
keringat yang sudah di cucurkan oleh Ibu Kartini. Melalui pemikiran-pemikran
kritis yang di transformasikan pada bentuk tulisan sastrawi, Kartini mengajak massa
yang sadar untuk mendobrak fanatisme kebudayaan.
Perjuangan
perempuan tak hanya selesai pada masa R.A. Kartini saja. Masih banyak yang
harus diperjuangkan dan masih banyak pula yang perlu diusung. Sebab, tidak ada yang lebih hina
dari bergantung pada orang lain. Di
pangkuan perempuanlah seseorang mulai belajar merasa dan bertutur kata.
Dedikasikan pula waktu bagi diri sendiri untuk menggali apa yang membuat Kartini
menjadi simbol pergerakan perjuangan perempuan,
dengan meneladani Kartini dan kepeloporannya dalam leadership.
Bangsa
ini membutuhkan kolaborasi dari perempuan dan laki-laki. Bukan sebuah kompetisi
antara yang menang dan yang kalah. Pun, masyarakat perlu adanya kerja sama demi
kesejahteraan bangsa secara bersama-sama.
Yang pada hakikatnya semua warga negara dianggap memiliki hak yang sama,
serta tanam kepekaan terhadap lingkungan dan persoalan sosial.

