(Rhetor_Online-UIN)-Senin, 01 Juni 2015, puluhan massa melakukan aksi di rektorat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aksi mahasiswa tersebut menuntut kejelasan
mengenai ijazah dan transkrip nilai yang tak kunjung diterima oleh mahasiswa. Aksi
yang nyaris cheos ini berakhir dengan dialog setelah Ah. Minkhaji selaku
rektor dan beberapa pejabat kampus lainnya menemui massa aksi di ruang lobi
rektorat.
| Doc: Rhetor/ Eko |
Dalam kesempatan tersebut, Minkhaji menjelaskan beberapa poin
alasan transkrip dan ijazah terlambat, salah satunya terkait format baru yang
diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Mau tidak
mau, kita harus menyesuaikan. Dan itu butuh waktu,” ujarnya. Rektor
menjelaskan, saat ini hampir semuanya sudah clear. Beberapa dekan juga
menggaransi hak alumni itu bisa diambil kapanpun. Namun ada fakultas yang masih
tersandung urusan administrasi seperti fakultas Dakwah dan Komunikasi. Dekan
fakultas Dakwah dan Komunikasi menjamin semua beres paling lambat hari Kamis,
05 Juni 2015.
Dalam kesempatan itu, rektor yang baru menjabat beberapa
bulan itu menerangkan kepada massa aksi bahwa dirinya tengah menyusun sebuah
formula bernama SPI. SPI merupakan kepanjangan dari Sistem Pengendali Internal.
Tugas SPI adalah mengawasi dan menindak pejabat yang bekerja tidak sesuai
prosedur. “Pengurusnya baru dilantik belum lama ini,” jelas pria bergelar
profesor ini. Namun keterlambatan ijazah dan transkrip nilai ini belum akan
diproses oleh SPI karena adanya faktor perubahan format dari Kemendikbud.
Mantan dekan fakultas Sains dan Teknologi ini menerangkan
bahwa bukan hanya pejabat kelas bawah yang akan menerima teguran atau sanksi
dari SPI. Bahkan rektor pun mendapat perlakuan serupa.
Ia mengklaim sistem SPI ini baru pertama kali diberlakukan di
UIN. Saat diminta keterangan bagaimana SPI bekerja, Minkhaji mengatakan baru
dirumuskan. Namun ia memberi gambaran sanksi yang diberikan jika ada pejabat
yang bandel misalnya berupa pemotongan gaji dan pemberian sanksi lainnya.
“Intinya, saya jadi rektor bukan untuk terkenal. Saya ingin
membenahi sistem yang ada,” tegasnya.
Setelah berdialog dengan rektor dan beberapa pejabat kampus
lainnya, massa aksi membubarkan diri.
