(Rhetor_Online-UIN). Semua agama mengajarkan
spiritualitas, memberikan penjelasan yang komperehensif dan luar biasa mengenai
kepercayaan dan pengalaman spiritual yang dapat meningkatkan perubahan di dalam
otak manusia dan dapat menghasilkan kesehatan serta hidup lebih baik. Begitu pidato
yang disampaikan Syafa’atun saat di kukuhkan sebagi guru besar UIN Sunan
Kalijaga ( UIN Suka), selasa (29/09).
Orasi ilmiah prof. syafa’atun tersebut sebagai puncak acara
mensyukuri kelahiran UIN Suka yang ke 64 tahun, seusai berbagai agenda. Ia merupakan guru besar ke 60 dan sebagai guru
besar ke 34 yang masih aktif di UIN Suka.
Dalam pidatonya lebih lanjut, Ia memberi penjelasan bahwa ilmu
dan agama dapat berhubungan lebih dekat dan saling menyapa, untuk menghasilkan
kualitas kehidupan di bumi ini semakin baik. “membawa kebahagiaan dan kedamaian bagi umat
manusia,” ungkapnya.
Menurutnya, para ilmuan memiliki kebebasan, kewajiban dan
tanggungjawab untuk terus melakukan riset yang menghasilkan suatu temuan
menjadi makin sempurna. Sebagai manusia, ilmuan merupakan partner Tuhan yang
mesti terlibat dalam penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
Namun, tingginya posisi ilmuan tidak lebih tinggi dari
posisi Nabi utusan Tuhan. Kaum agamawan sebagai wakil Nabi masa kini hendaknya
aktif dan kreatif melakukan interaksi terhadap segala perkembangan dunia yang
pesat. “ini adalah esensi dari iman”
kata Syafa’atun.
Segala kemajuan dalam bidang Iptek hendaknya juga tetap
berpijak pada pertimbangan etika dan moral yang didasari pada nilai-nilai
agama. Mempertimbangkan pengeluaran dana yang sangat besar untuk membiayai
riset ilmuan, sementara di sekeliling kita masih banyak orang yang kelaparan
merupakan contoh sederhana.
“Kita memang menghargai keinginan untuk mencapai dan
mempertahankan derajad kesehatan yang terbaik. Akan tetapi usaha ini harus
dicapai dengan cara-cara yang etis, bermoral dan sesuai dengan nilai-nilai
agama,” tutur Syafa’atun.
Ia juga menambahkan bahwa peran para agamawan disitu sangatlah
penting guna mencapai keseimbangan tujuan. “Kontroversi-kontroversi seperti ini
membutuhkan uluran tangan kaum agamawan agar dicapai keseimbangan tujuan dari
setiap penemuan ilmu pengetahuan dan penciptaan teknologi,” tambahnya.
Di akhir pidatonya, Prof. Syafa’atun manyampaikan, hidup
berbagi menjadi pelajaran berharga bagi dirinya. Menurutnya, dengan selalu
hidup berbagi akan menjadikan kehidupan ini semakin membahagikan.
Lain halnya dengan Prof. H. Machasin, Rektor sementara UIN
Suka yang menggantikan Minkhaji. Dalam sambutanya ia lebih menyoroti dan
menyampaikan sejarah berdirinya UIN Suka.
Berawal dari Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) 26 September
1951, berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 34 Tahun 1950. Secara operasional
penyelenggaraan PTAIN diatur dalam peraturan bersama Menteri Agama RI dan
Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan RI tanggal 21 Oktober 1951.
Berdasarkan Peraturan Presiden RI Nomor 11 Tahun 1960, tanggal 9 Mei 1960,
PTAIN berubah menjadi IAIN. Dan Berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 26
Tahun Tahun 1965, IAIN di Yogyakarta ini diberi nama IAIN Sunan Kalijaga yang
kini menjadi UIN Suka berdasarkan Keppres Nomor 50 Tahun 2004, tanggal 21 Juni
2004.
Peringatan ke 64 tahun kelahiran UIN Suka tersebut dijadikan
sebagai momentum untuk bersyukur dan merefleksi. Bersyukur karena umat islam di
Indonesia di berikan anugerah oleh Allah berupa berdirinya perguruan tinggi
Islam yang telah di impikan founding fathers Republik Indonesia sebelum
merdeka. Semenjak berdirinya perguruan tinggi Islam hingga sekarang, terus
berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“melakukan fungsinya transfer ilmu-ilmu keislaman,
memelihara tradisi Islam dan melahirkan ulama,” kata Machasin.
Sementara merefleksi yang di maksud Machasin adalah untuk
mengenang peran dan jasa para pemimpin institusi ini semenjak berdiri. Dari era
kepemimpinan Rektor I, Moh. Adnan, disusul Prof. Dr. H. Mukhtar Yahya, Prof.
R.H.A. Soenarjo, SH., Kol. Drs. H. Bakri Syahid, Prof. Drs. H. Mu’in Umar,
Prof. Dr. H. Simuh, Prof. Dr. H. M. Atho’ Mudzhar, Prof. Dr. H.M. Amin
Abdullah, Prof. Dr. H. Musa Asy’arie, Prof. Drs. H. Akh. Minhaji, Ph.D., yang
karena masalah kesehatan tidak dapat melanjutkan tugas hingga akhir periode.
“sejak tanggal 8 September 2015, Menteri Agama RI telah
memberikan amanat kepada kami (Prof. Machasin-red) untuk melaksanakan tugas
jabatan sebagai pengganti sementara. Kita patut menyapaikan penghormatan dan
penghargaan yang tinggi kepada tokoh-tokoh perintis, pendiri dan pengembang
institusi pendidikan tinggi Islam tertua di negeri ini, yakni UIN Sunan
Kalijaga,” tutup Machasin. [eko]
