| (Doc: Rhetor_Fikry) |
“banyak
orang yang kaya namun memiliki cara fikir yang metrealis dan hedonis, sehingga
enggan untuk meelakukan perintah Allah” katanya.
Dalam
pidatonya, Rektor Universitas Islam Negeri Yogyakarta (UNY) tersebut juga menjabarkan kembali sejarah panjang
Idul adha. Diawali dari peristiwa Nabi Ibrahim yang rela menyembelih puteranya
Ismail yang di tandai dengan berbagai ritual atau lebih dikenal dengan rukun
haji oleh umat muslim.
“betapa
ikhlasnya Nabi Ibrahim yang rela menyembelih puteranya demi ketaatanya kepada
Allah, tiada kepentingan lain yang diatas Allah” tambah ustad Rahmat.
Ia juga
memaparkan beberapa pelajaran yang dapat di petik umat muslim dalam saat
melaksanakan rukun dan ibadah lain saat melaksanaan ibadah haji. Rukun haji
merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakn dalam ibadah haji, bila tidak
dilaksanakan maka tidak sah hajinya. Misalnya dalam melaksanakan Ihram, wukuf, tawaf ifadah dan sa’i.
Selain rukun
haji, ibadah lain yang dianjurkan adalah melempar jumroh. Dalam pelaksananya bermanfaat
untuk mengingat perjuangan nabi Ibrahim
yang mampu melawan Syetan yang menghastnya untuk melanggar perintah Allah.
Melempar jumrah
atau merajam setan, demikianlah kira-kira makna dari ibadah ini. Seperti yang
dimaksudkan Ibnu Abbas dalam haditsnya. Hal itu juga dikuatkan dengan firman
Allah QS. Al-baqarah 203. “dan
berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang”.
Maka di akhir
khutbahnya, Ustad Rahmat juga mengajak semua masyarakat muslim untuk menguatkan
ukhwah islamiah. Yang menjadi musuh semua umat muslim bukanlah saudaranya,
melainkan adalah setan. “kita berbeda melaksanakan hari raya sholat Id bukan
lantas kita bermusuhan, ini semua dilaksanakan berdasarka keyakinan
masing-masing” ajaknya. []
