Oleh
: Ikhlas Alfaridzi
![]() |
| Foto : Istimewa |
“Dan Hendaklah diantara
kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat)
yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
“ (Qur’an surat Ali Imron : 104).
Agama
Islam merupakan agama
pamungkas dalam sejarah peradaban manusia. Nabi Muhammad SAW sebagai penyampai
wahyu terakhir, merupakan puncak dari diutusnya seorang utusan Allah SWT di
muka bumi ini. Sehingga tidak ada lagi nabi dan rosul setelah beliau SAW.
Sebagai
seorang muslim, sudah seharusnya kita menjadikan agama yang kita yakini menjadi
suatu yang tetap. Tentunya Islam harus di bela dan di perjuangkan. Kebanggaan terhadap
Islam, menjadi suatu keharusan bagi kita umat Islam.
Berangkat
dari terjemahan satu ayat Al-qur’an diatas, bisa dipahami, urgensi kita sebagai muslim adalah
agar kiranya kita menetapkan pada diri kita masing-masing sebagai orang-orang
yang senantiasa belaku amar makruf-nahi
munkar. Kita haruslah sadar bahwa di tangan kitalah syi’ar dakwah
seharusnya kita emban.
Mengacu
juga pada satu sabda Rasulullah SAW ; “Barang siapa yang melihat diantara
kalian kemungkaran, maka gantilah. Dengan tangannya. Jika tidak bisa, maka
dengan lisannya. Jika tidak bisa, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya
iman.”(HR. Muslim), maka sudah se-yogyanya
kita menjadi seseorang yang senantiasa berlaku seperti ayat dan hadits diatas.
Namun,
yang ingin penulis garis bawahi adalah, bagaimana seharusnya kita melakukan
langkah-langkah dalam melakukan amar
makruf-nahi munkar tadi. Bagaimana, ketika apa-apa yang kita lakukan
merupakan menjadi suatu yang maslahat bagi orang-orang sekitar kita, bahkan orang-orang
yang bukan menjadi bagian dari kita.
Dalam
pergerakkannya, apa yang dikatakan sebagai dakwah amar makruf-nahi munkar seharusnya mempunyai suatu keberpihakan.
Dalam pandangan kritis, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang bersifat
netral. Semua yang ada tentu mempunyai alur, tujuan, kepentingan, dan tentunya keberpihakkan.
Untuk
itu, perlunya keberpihakkan itu di bangun oleh kita dalam melakukan amar makruf -nahi munkar tadi.
Keberpihakkan jika mengacu kepada agama Islam sendiri adalah keberpihakkan
kepada orang-orang yang tertindas. Nabi muhammad pun melakukannya demikian.
Bagaimana perjuangan beliau dalam membela kesetaraan hak manusia yang kala itu
marak terjadinya sistem kelas dan perbudakan di tengah-tengah kota mekkah.
Orang-orang
yang tertindas adalah orang-orang yang termarjinalkan oleh lingkaran kekuasaan.
Dimana mereka sendiri tidak mampu untuk melawan untuk bangkit lantaran tidak memiliki kekuatan
secara moril maupun materil. Oleh karena itu, dakwah amar makruf-nahi munkar yang seharusnya kita arahkan sebelum lebih
jauh pada penegakkan agama secara aqidah dan syariat, adalah pembelaan kita
terhadap mereka yang tertindas.
Karena,
apa yang dikatakan dakwah amar makruf-nahi
mungkar ini lebih bersifat makro, yakni dilakukan secara menyeluruh tanpa
memandang pada elemen lapisan masyarakat tertentu. Hal yang perlu di kedepankan
adalah bagaimana agama yang kita yakini dan kita banggakan ini, kita
jadikan rahmat bagi muka bumi ini.
Rahmat
bisa juga di katakan sebagai anugerah. Kalau kita bicara anugerah, tentunya hal
itu harus mengandung sesuatu yang bisa membuat semua orang bahagia. Kehadiran
agama Islam di tengah-tengah masyarakat seharusnya bisa menjadi teladan bagi
masyarakat itu sendiri. Tidak malah menjadi hal yang meresahkan seperti yang
telah dilakukan oleh sekelompok orang yang mengaku melakukan amar makruf-nahi
munkar.
Maka,
keberpihakkan kepada mereka yang tertindas lantas akan menjadikan kita,
terlebih agama kita menjadi teladan ditengah-masyarakat. []

